Joseph Kabila, mantan Presiden Republik Demokratik Kongo (DRC), kembali mengejutkan publik dengan memimpin aliansi pemberontak Front for the Refoundation of the Nation (FRN). Langkah ini mengonfirmasi dugaan lama bahwa ia bersekongkol dengan kelompok M23 yang kini menguasai wilayah timur DRC, termasuk kota-kota strategis Goma dan Bukavu. Ironisnya, target utama Kabila adalah FĂ©lix Tshisekediâpresiden yang ia serahkan kekuasaan padanya pada 2019 silam.
Analis politik menilai langkah Kabila sebagai jalan buntu politik. Terjerat vonis mati in absentia atas tuduhan pengkhianatan dan sanksi AS terkait dukungannya pada M23, Kabila disebut tak punya pilihan lain selain kembali ke panggung kekerasan. Kekuatan militer M23 dianggap sebagai kartu As Kabila untuk mendapatkan posisi tawar dalam negosiasi politik ke depan.
Dampak bagi masyarakat Kongo sangat besar. Konflik yang sebelumnya terpusat di wilayah timurâberjarak 1.500 km dari ibu kota Kinshasaâkini berpotensi menyebar ke seluruh negeri berkat jaringan politik Kabila. Negara kaya mineral ini kembali terancam instabilitas berkepanjangan, mempertaruhkan sumber daya alam strategis dunia seperti emas, berlian, dan kobalt yang menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik dan ponsel.