Musim dingin yang akan segera tiba di Gaza menjadi ancaman baru bagi ratusan ribu pengungsi Palestina. Mohammed al-Jamal (60), seorang pengungsi asal Shujayea, terpaksa berjuang keras mengencangkan terpal nilon tendanya yang sudah usang di kamp pengungsian tepi pantai, Gaza Barat. Ia dan anak-anaknya berusaha menambatkan tenda ke tanah agar tidak diterbangkan angin kencang dan hujan yang datang dari arah laut.
Ini akan menjadi musim dingin keempat bagi warga Gaza yang mengungsi tanpa tempat tinggal layak. Suhu di sana bisa turun hingga 7 derajat Celsius, dan terasa jauh lebih dingin karena angin pesisir serta hujan. Keluarga al-Jamal bahkan tidak mampu mengganti terpal yang rusak karena harga di pasar lokal mencapai 120 hingga 150 shekel (sekitar Rp530 ribu sampai Rp660 ribu).
"Kami mengikuti laporan cuaca, dan setiap ada peringatan badai, kami mulai bersiap. Tapi begitu badai datang, semuanya robek dan kami harus mulai dari awal lagi. Ini penderitaan yang terus berulang sepanjang musim dingin," ujarnya.
Sekitar 30 anggota keluarga besarnya tinggal dalam kondisi memprihatinkan. Saat hujan, air masuk ke tenda dan menggenangi ruang hidup mereka, mengancam barang-barang seadanya. Saat suhu turun, tidak ada pilihan selain menambah lapisan pakaian. Al-Jamal mengaku kerap mendengar janji masuknya material tempat tinggal dan kafilah (caravan) ke Gaza, namun tak satu pun tiba. Ia menyebutnya sebagai "janji palsu dan kebohongan".
Data OCHA mencatat setidaknya 294.250 keluarga di Gaza membutuhkan bantuan tempat tinggal musim dingin, namun dengan stok yang ada, hanya 52.000 keluarga yang bisa terlayani. Konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74.500 warga Palestina dan merusak lebih dari 80 persen bangunan. Akibatnya, sekitar 1,5 juta dari 2,3 juta penduduk Gaza kini hidup di tenda atau tempat penampungan darurat.
Analisis Dampak: Kondisi ini berpotensi memicu krisis kemanusiaan lanjutan, terutama risiko hipotermia, penyakit pernapasan, dan sanitasi buruk di kamp pengungsian. Minimnya pasokan material tempat tinggal menunjukkan kesenjangan antara janji bantuan internasional dan realisasi di lapangan, yang semakin memperparah kerentanan kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.