Dunia di ambang krisis energi? CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, sudah jauh-jauh hari memperingatkan Amerika Serikat tentang dampak mengerikan jika infrastruktur energi Iran diserang. Peringatan itu kini menjadi kenyataan pahit setelah serangan balasan Iran melumpuhkan fasilitas LNG terbesar di dunia, Ras Laffan Industrial City di Qatar, yang berdampak pada pasokan gas ke Eropa dan Asia.
Serangan yang melumpuhkan sebagian besar fasilitas di Ras Laffan ini adalah respons Iran terhadap agresi Israel terhadap ladang gas South Pars. Akibatnya, 17 persen kapasitas ekspor Doha langsung lenyap. Bagian vital yang disebut 'cold boxes', mekanisme pendingin untuk memurnikan dan mencairkan gas sebelum dikirim, hancur total. Ini berarti, pasokan LNG ke Eropa dan Asia terancam terganggu hingga lima tahun ke depan.
Al-Kaabi, yang juga menjabat Menteri Energi Qatar, mengungkapkan bahwa ia telah berulang kali mengingatkan pejabat AS, termasuk Menteri Energi Chris Wright, serta para eksekutif perusahaan minyak dan gas mitra Qatar, tentang potensi 'konsekuensi negatif' dan pentingnya menahan diri agar tidak menyerang fasilitas energi. "Mereka sadar akan ancaman ini, dan saya hampir setiap hari mengingatkan mereka untuk memastikan ada pembatasan terhadap fasilitas minyak dan gas," ujarnya dalam wawancara dengan Reuters.
Namun, meskipun Presiden AS Donald Trump mengaku tidak tahu menahu soal serangan Israel ke ladang gas South Pars, pihak Qatar juga tak menduga bahwa serangan balasan ke fasilitas mereka akan terjadi. Juru bicara Gedung Putih, Taylor Roger, menanggapi pernyataan al-Kaabi dengan menyebutkan bahwa Trump dan tim energinya memang menyadari bakal ada 'gangguan jangka pendek' pada pasokan minyak dan gas selama operasi di Iran berlangsung, dan sudah merencanakan hal ini.
Sayangnya, pemulihan produksi QatarEnergy tidak semudah itu. Al-Kaabi menegaskan, fasilitas baru bisa beroperasi kembali jika permusuhan berakhir. Itupun, butuh waktu minimal tiga hingga empat bulan untuk pulih sepenuhnya. Ini jelas pukulan berat, mengingat QatarEnergy bermitra dengan raksasa energi AS seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips, yang pastinya juga merasakan dampaknya. Perwakilan ConocoPhillips sendiri menyatakan komitmen penuh untuk membantu QatarEnergy dalam proses pemulihan. Situasi ini bukan hanya soal Timur Tengah, tapi ancaman nyata terhadap stabilitas pasokan energi global.