Panggung politik Eropa kembali riuh dengan 'perang urat saraf' antara dua pemimpin berpengaruh: Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Gesekan ini dipicu oleh pembunuhan seorang aktivis sayap kanan Prancis, Quentin Deranque, di Lyon yang diduga dilakukan oleh kelompok ekstrem kiri. Kejadian ini tak hanya mengguncang Prancis, tapi juga membuka kembali luka lama ketegangan ideologi antarnegara.
Ketegangan bermula saat PM Meloni, yang dikenal konservatif, menyatakan di media sosial bahwa pembunuhan Deranque 'oleh kelompok terkait ekstremisme kiri... adalah luka bagi seluruh Eropa'. Pernyataan Meloni ini sontak memancing reaksi keras dari Presiden Macron. Dari India, Macron merespons dengan nada geram, menyindir para nasionalis yang selalu sibuk mengomentari urusan negara lain alih-alih fokus pada negerinya sendiri. Ketika ditanya apakah sindirannya ditujukan untuk Meloni, Macron menjawab singkat, 'Anda tepat sekali'.
Meloni kemudian menanggapi bahwa Macron salah menafsirkan pernyataannya. 'Saya menyesal Macron menganggapnya sebagai campur tangan,' ujarnya dalam sebuah wawancara televisi. Quentin Deranque, 23 tahun, meninggal dunia setelah dipukuli saat demonstrasi sayap kanan di Lyon pada 12 Februari. Jaksa telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, termasuk seorang asisten anggota parlemen dari kubu sayap kiri France Unbowed (LFI), yang akan menghadapi tuduhan pembunuhan. Para tersangka membantah tuduhan tersebut.
Insiden ini sontak mengguncang kancah politik Prancis dan memanaskan ketegangan antara kubu sayap kanan dan sayap kiri, terutama menjelang pemilihan umum kota bulan Maret dan pilpres 2027. Survei opini bahkan menempatkan sayap kanan di posisi terdepan untuk pilpres 2027, di mana Macron harus lengser setelah dua periode menjabat.
Ini bukan kali pertama Macron, yang pro-Eropa dan berhaluan tengah, berselisih dengan Meloni, sekutu dekat Donald Trump di Eropa. Keduanya kerap beda pandangan dalam berbagai isu, mulai dari konflik di Ukraina hingga perdagangan dan kebijakan Eropa. Dalam wawancara televisinya, Meloni bahkan menyinggung 'Tahun-Tahun Timah' di Italia (1969-1980), masa kelam saat negara itu dilanda serangan kelompok Marxis radikal, Brigade Merah. Ia mengingatkan bahwa Prancis pernah memberikan suaka politik kepada anggota-anggota Brigade Merah, yang menjadi duri dalam hubungan kedua negara. 'Para elite penguasa harus merenungkan bagaimana mengatasi iklim yang bisa membawa kita kembali beberapa dekade ke belakang,' tegasnya, menyiratkan peringatan tentang bangkitnya ekstremisme politik dan polarisasi ideologi yang kian dalam di Benua Biru.