Jakarta – Jose Guadalupe Ramos (52) meninggal dunia di Pusat Penahanan Imigrasi Adelanto, California, pada akhir Maret lalu. Ia adalah satu dari 32 orang yang tewas dalam tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE) sepanjang 2025. Angka ini melonjak 290 persen dibandingkan 2024 yang hanya mencatat 11 kematian.
Pasangan Ramos, Antonia Tovar, menuding petugas Adelanto lalai memberikan pertolongan. “Mereka bisa menyelamatkannya, tetapi tidak melakukan apa pun,” ujarnya. Ramos, yang sudah 40 tahun bersama Tovar, baru sebulan ditahan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir melalui panggilan Zoom.
Lonjakan ini terjadi di tengah kampanye deportasi massal Presiden Donald Trump. Data Syracuse University mencatat lebih dari 405.700 orang telah ditahan ICE sejak Trump menjabat. Pemerintah bahkan menetapkan kuota penangkapan harian untuk mewujudkan “operasi deportasi terbesar dalam sejarah Amerika”.
Sharon Dolovich dari UCLA, yang memantau data kematian di tahanan ICE, memperkirakan jumlah korban tahun ini masih akan bertambah. “Proses penghitungan angka kematian memakan waktu, tetapi saya yakin trennya naik,” katanya.
Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) membantah adanya lonjakan. Juru bicara DHS menyebut klaim tersebut tidak berdasar, meski data internal ICE sendiri mencatat 19 kematian pada 2026.
Dampak: Kasus ini memicu kemarahan keluarga korban dan desakan transparansi dari aktivis HAM. Jika tidak segera diatasi, sistem penahanan imigran AS berisiko menjadi kuburan massal bagi mereka yang hanya mencari kehidupan yang lebih baik.