JUARA OLIMPIADE TINJU SETUJU TES GENDER, ADA SYARAT KHUSUS! - Berita Dunia
← Kembali

JUARA OLIMPIADE TINJU SETUJU TES GENDER, ADA SYARAT KHUSUS!

Foto Berita

Petinju Aljazair, Imane Khelif, peraih medali emas Olimpiade 2024, akhirnya angkat bicara soal isu tes gender yang terus membayangi kariernya. Khelif menyatakan kesediaannya untuk menjalani tes genetik, namun dengan satu syarat tegas: tes tersebut harus dilakukan langsung oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Ia ingin memastikan prosesnya adil dan tidak dimanfaatkan.

Kisruh tes gender ini memang bukan hal baru bagi Khelif. Sebelumnya, ia sempat didiskualifikasi dari Kejuaraan Dunia 2023 oleh Asosiasi Tinju Internasional (IBA) karena hasil tes kromosom. Namun, di tengah kontroversi itu, Khelif justru berhasil meraih emas di nomor welterweight putri pada Olimpiade Paris 2024, menunjukkan ketangguhannya di atas ring.

Situasi makin kompleks setelah World Boxing, badan yang akan mengawasi kompetisi tinju di Olimpiade 2028 Los Angeles, mengumumkan aturan wajib tes seks untuk semua petinju. Keputusan ini mendorong Khelif mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), menuntut keadilan agar ia bisa tetap berkompetisi tanpa paksaan tes genetik dari pihak lain.

Melalui wawancara, Khelif menegaskan identitasnya. "Saya bukan transgender. Saya seorang wanita. Saya ingin menjalani hidup saya. Tolong jangan manfaatkan saya untuk agenda politik Anda," ujarnya. Ia juga berharap CAS akan memberikan keadilan baginya. "Saya tidak akan menyerah sampai mendapatkan keadilan karena saya tahu keadilan ada di pihak saya, di atas segalanya."

Kasus Imane Khelif ini menyoroti betapa peliknya isu identitas gender dan keadilan dalam dunia olahraga elite. Konflik regulasi antar badan tinju internasional (IBA vs World Boxing) mengenai standar pengujian gender juga menjadi perhatian serius. Ini bukan hanya tentang fair play, tetapi juga tentang hak asasi atlet dan dampak psikologis yang dialami. Komunitas olahraga kini menanti bagaimana IOC dan CAS akan menyelesaikan sengketa ini demi masa depan kompetisi yang lebih inklusif dan adil bagi semua atlet.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook