NEW DELHI, INDIA — Pemerintah India mengambil langkah tegas dengan memblokir sementara aplikasi perpesanan Telegram, hanya beberapa hari sebelum ujian masuk perguruan tinggi kedokteran paling bergengsi di negara itu, NEET-UG, digelar ulang pada 21 Juni. Langkah ini diambil setelah ujian versi sebelumnya pada Mei lalu dibatalkan karena bocornya kertas soal.
Badan Tes Nasional India (NTA) menyambut baik keputusan ini. Mereka menilai Telegram telah menjadi 'sarang' sindikat curang yang terorganisir untuk menipu para calon mahasiswa. Menurut NTA, banyak kanal dan grup di Telegram yang secara terbuka menjual akses ke kertas soal palsu, memeras kandidat dan keluarga mereka dengan iming-iming jawaban bocor.
Namun, kebijakan ini memicu kritik pedas dari warganet dan pegiat hak asasi manusia. Mereka menyebut pemblokiran Telegram sebagai solusi 'tambal sulam' yang tidak menyentuh akar masalah: sistem ujian yang rapuh dan rawan kecurangan. Alih-alih membatasi akses komunikasi, mereka mendesak pemerintah untuk memperbaiki prosedur dan keamanan ujian.
Menariknya, beberapa jam setelah pengumuman, Telegram masih bisa diakses oleh pengguna di India. Belum jelas bagaimana pemerintah akan menegakkan larangan ini secara teknis. Selain blokir, Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India juga meminta Telegram menonaktifkan fitur edit pesan hingga 30 Juni, karena fitur ini diduga dipakai untuk memalsukan bukti kebocoran soal.
Kasus NEET-UG ini sudah menyita perhatian publik India. Sekitar 2,28 juta peserta mengikuti ujian pada 3 Mei lalu di 5.000 pusat ujian. Namun, Badan Investigasi Pusat (CBI) kini menangani kasus ini dan sudah menangkap belasan orang. Protes besar-besaran pun terjadi, menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal India.