BUNKER NUKLIR PERANG DINGIN DISULAP JADI KONDOMINIUM MEWAH - Berita Dunia
← Kembali

BUNKER NUKLIR PERANG DINGIN DISULAP JADI KONDOMINIUM MEWAH

Foto Berita

Debert, Kanada - Sebuah bunker nuklir peninggalan Perang Dingin di Kanada kini disulap menjadi kondominium mewah khusus miliarder yang ingin 'bertahan hidup' dari kiamat. Bunker seluas 64.000 kaki persegi yang terletak di Debert, Nova Scotia, ini dibeli oleh taipan kripto Jonathan Baha'i pada tahun 2013 seharga C$31.300 (sekitar Rp350 juta).

Awalnya, bunker bekas pangkalan militer era Perang Dunia II ini direncanakan sebagai lokasi laser tag dan museum sejarah. Namun, meningkatnya ketidakpastian global dalam dua tahun terakhir mengubah konsepnya menjadi tempat perlindungan ultramewah. 'Orang-orang sekarang ingin punya asuransi, yaitu bunker kiamat,' ujar Paul Mansfield, rekan pemilik proyek.

Proyek yang dikelola oleh Fallout Complex Inc ini akan memiliki 50 unit dengan fasilitas setara hotel bintang lima. Setiap unit dilengkapi akses biometrik, pengawasan 24 jam, layanan medis di tempat, dan dapur gourmet dengan sumber makanan mandiri. Penghuni yang memiliki jet pribadi bisa mendarat di Bandara Debert yang letaknya tak jauh dari lokasi.

Menariknya, renovasi bunker ini juga mencakup spa, ruang yoga, dan lounge cerutu. Lampu OLED modern akan meniru cahaya alami, sementara bunker di atas tanah akan digunakan untuk bercocok tanam. Keamanan superketat akan dijaga oleh perusahaan Jerman, Bespoke Home and Yacht Security, yang konon pernah mengamankan Wakil Presiden AS JD Vance dan selebriti Kim Kardashian.

Sebelas unit sudah terjual, meskipun harga jual dan sewa dirahasiakan. Saat pemilik tidak menempati, unit akan disewakan sebagai hotel dan keuntungannya dibagi. Uniknya, jika terjadi bencana saat unit disewa, penyewa hotel harus segera mengosongkan tempat.

Analisis Dampak: Fenomena ini menunjukkan meningkatnya kecemasan kalangan superkaya akan ketidakpastian global, mulai dari perang, perubahan iklim, hingga keruntuhan ekonomi. Proyek ini juga menjadi simbol kesenjangan ekstrem, di mana hanya segelintir orang mampu membeli 'tiket keselamatan' seharga miliaran rupiah, sementara mayoritas masyarakat harus menghadapi risiko yang sama tanpa perlindungan sebanding.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook