La Paz, 27 Mei 2025 ā Setelah 18 tahun bersitegang, Bolivia dan Amerika Serikat kembali menjalin kerja sama strategis untuk memberantas peredaran narkoba. Pemerintah Bolivia secara resmi menandatangani kesepakatan baru yang memberikan dana sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp310 miliar) dari Washington.
Dalam perjanjian ini, Amerika Serikat akan menyediakan pelatihan dan peralatan bagi aparat Bolivia. Langkah ini menjadi sinyal kuat mencairnya hubungan kedua negara sejak era Presiden Evo Morales yang mengusir Badan Antinarkoba AS (DEA) pada 2007 silam.
Di bawah kepemimpinan Presiden Rodrigo Paz yang berhaluan sentris, Bolivia kini bergabung dalam inisiatif keamanan 'Shield of the Americas' (Perisai Amerika) yang dipimpin AS. Pakta ini fokus memerangi 'narco-terrorism' atau terorisme narkoba di kawasan Belahan Bumi Barat.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Bolivia, kesepakatan ditandatangani di La Paz. Tujuannya memperkuat institusi keamanan publik, investigasi kriminal, dan pemberantasan kejahatan terorganisir. Langkah ini diambil dua pekan setelah Paz menunjuk 'drug czar' Ernesto Justiniano sebagai menteri pertahanan baru.
Kesepakatan ini juga terjadi di tengah gelombang protes anti-pemerintah di Bolivia. Sebagai respons, negara-negara anggota Shield of the Americas mengeluarkan pernyataan dukungan untuk Paz pada 21 Mei lalu, mengecam aksi unjuk rasa yang dianggap mengancam tatanan konstitusi.
Analisis Dampak: Kembalinya Bolivia ke pangkuan AS menandai pergeseran geopolitik signifikan di Amerika Latin. Bagi Indonesia, ini menjadi pelajaran tentang dinamika diplomasi keamanan. Di satu sisi, kerja sama ini bisa menekan produksi kokainākarena Bolivia adalah produsen koka terbesar ketiga dunia. Namun di sisi lain, kebijakan keras AS yang kerap menyerang kapal penyelundup di Karibia dan Pasifikāyang telah menewaskan lebih dari 200 orang sejak Septemberāmenuai kritik pelanggaran hukum internasional. Masyarakat perlu cermat menyikapi efektivitas versus risiko pelanggaran HAM dalam perang antinarkoba global.