JAKARTA - Presiden FIFA, Gianni Infantino, akhirnya angkat bicara di hadapan para petinggi sepak bola dunia. Dalam rapat dewan yang berlangsung lebih dari tiga jam pada Kamis lalu, ia menyampaikan permintaan maaf terkait kontroversi rencana investasi modal ventura yang sempat mengguncang organisasi. Namun, permintaan maaf itu dinilai tidak cukup karena ia tidak memberikan dokumen atau rincian baru mengenai masalah yang paling mengganggu para kritikus.
Poin penting dari pertemuan tertutup tersebut adalah absennya transparansi. Infantino tidak membahas dokumen terkait rencana penjualan hak komersial Piala Dunia senilai USD 4,2 miliar (sekitar Rp 68 triliun) yang sempat ia luncurkan dan batalkan pada Juli lalu. Selain itu, tidak ada penjelasan mengenai kasus kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia serta bagaimana intervensi Presiden AS, Donald Trump, dalam insiden tersebut.
Alih-alih memberikan jawaban, Infantino meminta para anggota dewan untuk mengajukan pertanyaan secara tertulis. Sikap ini memicu kemarahan perwakilan Eropa. Wakil Presiden FIFA, Debbie Hewitt, menegaskan bahwa Infantino wajib menjawab pertanyaan tersebut secara terbuka. Jika tidak, ia dinilai tidak layak memimpin FIFA.
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) tengah memimpin upaya untuk menyingkirkan Infantino sebelum pemilihan presiden pada Maret mendatang. Ketua sepak bola Jerman, Bernd Neuendorf, menyatakan bahwa tidak ada jawaban memuaskan yang diberikan dalam rapat tersebut. UEFA bahkan telah meminta pengadilan di Amerika Serikat untuk mengakses bukti guna mendukung laporan pidana terhadap Infantino di Swiss terkait dugaan mismanajemen keuangan.
Meski begitu, FIFA dikabarkan akan meninjau kembali apakah akan melanjutkan pemberian hadiah perdamaian yang rencananya diberikan kepada Donald Trump pada Desember nanti. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak FIFA mengenai kelanjutan rencana investasi tersebut.