INFLUENCER PRO-TRUMP TARIK RAMBUT WANITA DI STASIUN LONDON - Berita Dunia
← Kembali

INFLUENCER PRO-TRUMP TARIK RAMBUT WANITA DI STASIUN LONDON

Foto Berita

London, BBC International – Seorang influencer dan eksekutif humas pendukung Donald Trump, Melissa Rein Lively, mengakui telah menyerang seorang wanita dengan menarik rambutnya di Stasiun Bond Street, London, pada 11 Oktober lalu.

Melissa, warga negara AS berusia 40 tahun, menerima peringatan bersyarat atas insiden tersebut. Tuduhan pemukulan terhadapnya pun dicabut di Pengadilan Westminster pada Selasa (14/5). Ia tidak hadir dalam sidang tersebut.

Jaksa Penuntut Lyndon Harris menyatakan bahwa pengakuan Melissa atas tindakannya sudah cukup sebagai pelanggaran. Ia juga setuju membayar kompensasi sebesar £910, meskipun hingga sidang, uang tersebut belum dibayarkan dan jatuh tempo pada Juli mendatang.

Kekasih Melissa, Philipp Ostermann (37), warga negara Jerman, justru menghadapi tuduhan lebih berat. Ia didakwa melakukan dua pelanggaran ketertiban umum yang diperburuk oleh unsur rasial dan satu pelanggaran ketertiban umum lainnya. Ostermann membantah semua tuduhan dan dibebaskan dengan jaminan. Sidangnya akan digelar di Pengadilan City of London pada 17 November.

Kronologi Kejadian: Menurut keterangan pengadilan, korban sedang berjalan bersama saudara perempuannya dan dua anak kecil menuju Stasiun Bond Street. Satu anak duduk di kereta dorong. Ostermann dan Melissa yang tampak mabuk berjalan di depan mereka dan terlihat berciuman.

Melissa tiba-tiba tersandung ke kereta dorong, mendorong korban untuk mendorong balik kereta tersebut. Saat itulah Ostermann diduga melontarkan kata-kata rasis, "Kalian orang India sialan, lihat jalan kalian, kalian seharusnya tidak ada di sini."

Korban membantah mereka adalah orang India dan meminta Ostermann berhenti bersikap rasis. Tak lama setelah itu, Melissa langsung meraih rambut salah satu saudara perempuan itu dan menariknya dengan keras.

Analisis Dampak: Kasus ini memicu perdebatan sengit di media sosial Inggris. Publik menyoroti dua hal: pertama, perilaku arogan figur publik yang mengaku 'anti-woke' justru melakukan kekerasan fisik dan diskriminasi rasial. Kedua, hukuman ringan berupa peringatan bersyarat dinilai tidak memberikan efek jera, terutama bagi warga negara asing yang melanggar hukum di Inggris. Banyak pihak menuntut agar proses hukum terhadap Ostermann menjadi ujian serius bagi sistem peradilan Inggris dalam menangani ujaran kebencian.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook