TIGRAY MEMANAS LAGI: PERANG BELUM USAI - Berita Dunia
← Kembali

TIGRAY MEMANAS LAGI: PERANG BELUM USAI

Foto Berita

Konflik bersenjata di Ethiopia utara kembali memanas setelah militer pemberontak menolak menyerah meski ibu kota Tigray, Mekelle, sudah dikuasai pasukan pemerintah. Panglima militer Tigray, Letnan Jenderal Fisseha Kidanu, menegaskan perang masih berlangsung dan mengajak seluruh milisi lokal serta relawan untuk melawan pasukan pemerintah. Pernyataan itu disiarkan lewat Tigray Broadcast Media, stasiun televisi baru milik kelompok pemberontak, Kamis lalu.

Di sisi lain, pejabat administrasi sementara Tigray yang didukung pemerintah federal, Redae Halefom Woldeselassie, meminta para pemberontak meletakkan senjata dan kembali ke kehidupan sipil. Ia menegaskan bahwa konflik hanya menguntungkan sekelompok kecil elite, bukan rakyat Tigray. Pemerintah Ethiopia sendiri telah memasang administrasi transisi selama enam bulan dengan janji memulihkan layanan publik, membantu warga kembali ke rumah, dan menyiapkan pemilu.

Meski demikian, kekerasan belum benar-benar berhenti. Warga Mekelle melaporkan serangan drone yang menewaskan empat orang dan melukai enam lainnya saat mereka sedang menaikkan kambing ke truk pada Selasa. Korban jiwa tersebut belum bisa diverifikasi secara independen oleh media asing.

Perdana Menteri Abiy Ahmed menuduh TPLF memaksa merekrut anak muda untuk bertempur, alih-alih melucuti senjata sesuai kesepakatan damai Pretoria 2022. Konflik yang kembali pecah ini praktis meruntuhkan kesepakatan damai yang sebelumnya mengakhiri perang saudara besar di Tigray.

Analisis dampak: Bagi masyarakat Tigray, perang lanjutan berarti krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai—warga sipil kembali jadi korban, termasuk dari serangan drone, sementara akses bantuan dan layanan publik masih belum pulih. Ketidakpastian politik juga menghambat proses pemilu dan pemulangan pengungsi. Bagi Ethiopia secara keseluruhan, runtuhnya kesepakatan Pretoria berisiko memicu instabilitas politik nasional dan mengganggu upaya pemulihan ekonomi pascaperang. Dunia internasional pun dipaksa kembali menyoroti potensi krisis kemanusiaan berskala besar di kawasan Tanduk Afrika.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook