ORANG KAYA MIAMI SIAP REBUT KUBA PAS REZIM TUMBANG - Berita Dunia
← Kembali

ORANG KAYA MIAMI SIAP REBUT KUBA PAS REZIM TUMBANG

Foto Berita

MIAMI - Sekelompok elit pengusaha Kuba-Amerika super kaya di Miami sedang bersiap menyambut apa yang mereka sebut sebagai 'hari setelah' runtuhnya rezim komunis di Kuba. Mereka bukan sekadar berandai-andai, melainkan sudah menyusun rencana bisnis dan infrastruktur untuk masuk ke pulau tersebut secepat mungkin.

Dalam pertemuan tertutup di rumah mewah salah satu dokter bedah plastik top di Miami, para taipan yang memiliki nama belakang legendaris seperti Bacardi dan Babun berkumpul. Mereka tergabung dalam Cuban-American National Chamber of Commerce (CANCC). Presiden CANCC, Juan Omar Sixto, menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah berada di Kuba begitu rezim saat ini jatuh.

Kelompok ini memandang pemerintahan Trump sebagai momentum emas. Mereka mengklaim memiliki jalur komunikasi langsung dengan orang-orang dekat Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Rencananya, mereka tidak hanya mengirim bantuan kemanusiaan, tetapi langsung mengambil alih roda perekonomian begitu kesempatan terbuka.

Persiapan mereka terbilang matang. CANCC bahkan sudah menyusun proposal untuk mendirikan Bursa Saham Kuba dan membentuk komite khusus untuk infrastruktur energi hingga ketahanan pangan. Bagi mereka, ini adalah balas dendam sejarah atas nasionalisasi properti keluarga mereka oleh Fidel Castro pada 1959 silam.

Analisis Dampak: Langkah agresif kelompok ini menuai skeptisisme di Havana. Di tengah blokade minyak AS yang membuat Kuba dilanda pemadaman listrik massal, pemerintah Kuba justru mengumumkan 176 langkah liberalisasi ekonomi. Presiden Miguel Díaz-Canel menyebutnya sebagai upaya memperkuat sosialisme, namun kritikus menilai ini adalah kapitalisme terselubung. Bagi masyarakat awam, ketegangan ini berarti harga pangan dan energi di Kuba berpotensi semakin tidak stabil dalam jangka pendek, sementara janji investasi besar-besaran dari Miami masih menjadi tanda tanya besar apakah akan mengucur deras atau justru memicu konflik politik baru.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook