Dunia kini dihadapkan pada ancaman krisis energi yang makin meluas. Konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang sudah berlangsung hampir sebulan, telah menutup Selat Hormuzâjalur penting pengiriman minyak dunia. Imbasnya, prospek ekonomi global dari Asia hingga Eropa kian gelap, memicu kekhawatiran serius akan inflasi dan biaya hidup.
Berbagai negara mulai merasakan dampaknya. Jepang, misalnya, minggu ini terpaksa melepas 80 juta barel cadangan minyak nasionalnyaâcukup untuk 45 hariâmengingat 90 persen minyak mentahnya diimpor dari Timur Tengah. Tak hanya itu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperingatkan bahwa Inggris akan menjadi salah satu negara ekonomi besar yang paling terpukul, dengan prediksi inflasi bisa menyentuh 4 persen tahun ini. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, bahkan menegaskan bahwa Iran tidak bisa dibiarkan menyandera ekonomi global.
Di tengah ketidakpastian ini, kebijakan Presiden AS Donald Trump justru menambah keruhnya suasana. Trump, yang dikenal sering berubah sikap, pekan ini kembali mengulur batas waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Awalnya, tenggat 48 jam diperpanjang lima hari, lalu ditambah lagi 10 hari untuk âdialog konstruktifâ. Perubahan mendadak ini, yang dijuluki fenomena 'TACO' (Trump Always Chickens Out), telah dimanfaatkan oleh investor. Mereka bertaruh bahwa Trump pada akhirnya akan melunak, dan terbukti, pasar minyak sempat melonjak setelah setiap perpanjangan tenggat waktu, membawa keuntungan besar bagi para spekulan ini.
Namun, ekonom senior Lena Komileva dari (g+)economics mengingatkan, pasar global kini cenderung kurang responsif terhadap manuver kebijakan Trump terkait Iran dibandingkan isu tarif. Menurutnya, konflik ini melibatkan banyak pemain dengan kepentingan kompleks, sehingga Amerika Serikat tidak bisa begitu saja mundur dari posisinya secara sepihak. Situasi ini mengindikasikan bahwa krisis energi global dan gejolak pasar saat ini jauh lebih rumit dan memiliki risiko jangka panjang yang lebih besar bagi stabilitas ekonomi dunia, dengan dampak langsung pada harga-harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi bagi masyarakat luas.