JENDERAL TOP AS DICOPOT MENDADAK: KONFLIK ATAU KONSPIRASI? - Berita Dunia
← Kembali

JENDERAL TOP AS DICOPOT MENDADAK: KONFLIK ATAU KONSPIRASI?

Foto Berita

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, baru-baru ini membuat gebrakan mengejutkan dengan memberhentikan Jenderal Randy George dari posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat AS. Pencopotan mendadak ini, yang dikabarkan oleh Pentagon sebagai 'pensiun', terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas, terutama terkait ketegangan antara AS, Israel, dan Iran.

Walaupun tidak ada alasan resmi yang diberikan, laporan dari media terkemuka AS seperti CBS dan The New York Times membongkar dugaan penyebab di balik layar. Sumber menyebutkan bahwa Hegseth ingin orang yang menempati posisi strategis ini bisa menerapkan visi yang sejalan dengannya dan Presiden Donald Trump. Konflik internal pun makin mencuat ketika Jenderal George dilaporkan mempertanyakan keputusan Hegseth yang memblokir promosi empat perwira — dua berkulit hitam dan dua perempuan — dari daftar 29 personel yang direkomendasikan. Sayangnya, permintaan George untuk bertemu Hegseth membahas masalah ini ditolak.

Jenderal George, yang berusia 61 tahun, diangkat pada tahun 2023 di era Presiden Joe Biden. Ia dikenal sebagai sosok yang pro-modernisasi, berjasa mengurangi birokrasi dan mengintegrasikan teknologi baru seperti drone pencegat rudal murah serta sistem penargetan bertenaga AI. Ia juga memiliki rekam jejak panjang di medan perang, termasuk di Irak dan Afghanistan.

Pencopotan George ini bukan yang pertama kali terjadi di bawah kepemimpinan Hegseth. Sejak menjabat Januari lalu, Hegseth memang kerap melakukan perombakan besar di tubuh militer AS. Bahkan, di hari yang sama dengan pencopotan George, dua perwira senior lainnya, Jenderal David M. Hodne dan Mayor Jenderal Wil (nama tidak lengkap di berita asli), juga turut diberhentikan. Perombakan pimpinan tertinggi Angkatan Darat ini memicu pertanyaan besar tentang stabilitas kepemimpinan militer AS di tengah berbagai tantangan global. Hal ini bisa menandai pergeseran signifikan dalam arah kebijakan dan strategi militer AS, serta berpotensi memicu kontroversi lebih lanjut terkait dugaan bias rasial atau gender dalam proses promosi dan mutasi di tubuh militer.

Sebagai bentuk penghormatan, Joint Chiefs of Staff, badan pemimpin militer tertinggi AS, telah menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook