Konflik di Tepi Barat kembali memanas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan operasi militer besar-besaran di Hebron yang berlangsung selama beberapa hari ke depan. Operasi ini merupakan respons atas tewasnya dua tentara Israel dalam serangan di pos pemeriksaan pada Jumat lalu, di mana kedua pelaku bersenjata Palestina juga ditembak mati.
Dalam operasinya, pasukan Israel dikerahkan untuk melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah, penangkapan massal, pembongkaran bangunan, hingga penggusuran paksa warga Palestina. Netanyahu secara tegas menyatakan pihaknya akan bertindak menghancurkan kawasan tersebut dan mengubahnya secara total.
Sejak Sabtu pagi, militer Israel telah menyerbu sedikitnya 15 kota di Tepi Barat bagian utara, termasuk Nablus, Jenin, Tubas, dan Qalqilya. Puluhan warga Palestina dilaporkan ditangkap. Di Hebron, buldoser Israel merobohkan bangunan tiga lantai, sementara ratusan keluarga diperintahkan meninggalkan rumah mereka. Al Jazeera melaporkan bahwa akses masuk ke Hebron ditutup total dan hingga setengah dari permukiman yang diserang telah mengalami penggusuran paksa, dengan setidaknya 200 keluarga kini kehilangan tempat tinggal.
Langkah ini menuai kecaman keras. Kelompok hak asasi manusia Israel, B'Tselem, menilai operasi tersebut sebagai bentuk hukuman kolektif yang berpotensi merupakan kejahatan perang. Situasi di Tepi Barat pun dilaporkan sangat mencekam, dengan warga memilih bertahan di dalam rumah karena jalanan yang sepi dan tidak dapat diprediksi.