Kabar melegakan datang dari Suriah timur laut. Gencatan senjata antara militer Suriah dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi resmi diperpanjang 15 hari lagi, memberi napas lega bagi warga yang mendambakan kedamaian setelah bertahun-tahun dilanda konflik.
Perpanjangan ini ibarat oase di tengah ketegangan yang terus memanas. Pasalnya, pasukan pemerintah Suriah dalam beberapa pekan terakhir terus mengukuhkan posisinya, menguasai sebagian besar wilayah utara dan timur negara itu. Ini sekaligus mengukuhkan cengkeraman Presiden Ahmed al-Sharaa, yang tengah berupaya keras mengembalikan stabilitas internal dan memulihkan nama Suriah di kancah internasional, termasuk lewat pemulihan ekonomi.
Pemerintah Suriah memutuskan untuk memperpanjang jeda tempur ini bukan tanpa alasan. Selain memberikan waktu tambahan bagi SDF untuk menyusun rencana integrasi ke dalam militer atau opsi lainnya, perpanjangan gencatan senjata ini juga krusial untuk mendukung operasi besar Amerika Serikat. AS saat ini tengah sibuk memindahkan tahanan ISIS dari penjara-penjara di Suriah ke Irak, sebuah langkah penting dalam upaya global memerangi terorisme.
SDF sendiri telah mengonfirmasi kesepakatan perpanjangan ini, yang disebut-sebut dicapai melalui mediasi internasional. Ini menunjukkan adanya harapan dialog dan negosiasi yang terus berlanjut dengan Damaskus untuk mencari solusi jangka panjang.
Respons warga di Raqqa, salah satu kota yang sangat merasakan dampak perang, sangat positif. Mereka menyambut gembira kabar ini, berharap stabilitas sejati segera terwujud. Salah satu harapan terbesar adalah agar sekolah-sekolah yang sudah tidak beroperasi optimal selama satu dekade bisa kembali membuka pintunya. Pemerintahan Suriah sendiri dilaporkan berencana memanfaatkan dua minggu ke depan untuk mengukuhkan gencatan senjata permanen dan fokus pada upaya rekonstruksi besar-besaran.
Di tengah semua itu, ada pula kabar baik lainnya. Sejumlah tahanan, termasuk anak di bawah umur dan mereka yang ditahan atas tuduhan tidak adil di penjara al-Aqtan, telah dibebaskan. Ini merupakan sinyal positif bahwa pemerintah Suriah sedang berupaya memilah tahanan berbahaya, terutama anggota ISIS, dari warga sipil yang tidak bersalah, demi keadilan dan kemanusiaan.