Sejumlah negara penting seperti Jerman, India, dan Korea Selatan secara serentak mendesak warganya untuk segera meninggalkan Iran. Peringatan mendesak ini muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan ancaman aksi militer yang melibatkan Amerika Serikat, membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian.
Pemerintah-pemerintah tersebut khawatir akan potensi serangan militer AS terhadap Iran. Jerman secara khusus memperingatkan warganya agar segera pergi karena risiko konflik militer di kawasan masih tinggi dan tak bisa dikesampingkan. India juga meminta semua warganya, mulai dari pelajar hingga pebisnis, untuk berhati-hati dan meninggalkan Iran secepat mungkin.
Senada, Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran, bahkan menekankan bahwa pada titik tertentu, evakuasi mungkin menjadi tidak mungkin. Kementerian Luar Negeri Serbia pun meminta warganya tidak melakukan perjalanan ke Iran dalam waktu dekat dan mereka yang sudah berada di sana untuk segera pergi. Kedutaan Besar Korea Selatan di Iran juga menyoroti ketegangan regional yang memuncak, mengutip potensi serangan AS dan ancaman balasan dari Teheran.
Krisis ini semakin memanas di tengah tuduhan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran berupaya membangun kembali program nuklirnya, meski Trump juga menyatakan preferensi untuk solusi diplomatik. Namun, Teheran telah berulang kali menegaskan tidak akan memenuhi tuntutan Washington untuk pengayaan nuklir nol dan menganggap program rudalnya sebagai “garis merah” yang tidak bisa dinegosiasikan. Di balik layar, putaran ketiga pembicaraan tidak langsung antara diplomat AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa, mencoba mencari celah diplomatik di tengah eskalasi.
Dalam sebulan terakhir, kehadiran militer AS di Timur Tengah dan Mediterania telah meningkat tajam, termasuk pengerahan kapal induk raksasa seperti USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford. Pengerahan kekuatan ini mengirim sinyal serius dan meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya konflik skala besar.
Dampaknya bagi masyarakat sangat nyata: warga sipil menghadapi risiko keamanan dan potensi pembatasan perjalanan yang tak terduga, termasuk pembatalan penerbangan dan penutupan wilayah udara. Lebih luas lagi, konflik di kawasan ini bisa mengguncang stabilitas global, memicu krisis energi, dan memperburuk kondisi ekonomi internasional. Situasi ini mengingatkan pada ketidakpastian pasca-penarikan AS dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada 2018 yang memicu kembali sanksi dan ketegangan hingga titik kritis ini. Dunia kini menahan napas, berharap jalur diplomasi masih terbuka lebar untuk meredakan ketegangan.