Pertandingan Test pertama antara Afrika Selatan dan Australia di Durban, Afrika Selatan, kembali diwarnai masalah klasik dunia kriket: pencahayaan yang buruk. Meskipun Australia masih memimpin dengan keunggulan 139 run, jalannya pertandingan terganggu karena wasit menghentikan permainan lebih awal di tiga hari pertama akibat kondisi cahaya yang dianggap berbahaya.
Masalah ini muncul karena pola cuaca unik di Durban. Meskipun pertandingan dimulai lebih awal pada pukul 09:30 waktu setempat, awan tebal sering kali datang tiba-tiba di sore hari. Fenomena ini terjadi akibat naiknya suhu di daratan yang memicu angin laut masuk ke kota, meningkatkan kelembapan dan menutupi sinar matahari. Akibatnya, lebih dari 60 over pertandingan hilang hanya dalam tiga hari pertama.
Ironinya, Federasi Kriket Internasional (ICC) baru saja mengesahkan aturan baru minggu lalu yang memperbolehkan penggunaan bola berwarna pink (merah muda) untuk pertandingan Test siang hari. Bola pink dinilai lebih mudah terlihat dalam kondisi minim cahaya dibandingkan bola merah tradisional. Namun, aturan ini tidak bisa diterapkan secara mendadak di tengah pertandingan; tim harus menyetujuinya sebelum laga dimulai. Baik Afrika Selatan maupun Australia tidak menyepakati penggunaan bola pink sebelum pertandingan dimulai, sehingga mereka harus menerima kenyataan permainan terhenti saat awan gelap datang.
Mantan pemain Afrika Selatan, Shaun Pollock, menyayangkan adanya 'stigma' terhadap bola pink, di mana banyak pihak menganggap bola tersebut bergerak terlalu banyak dan merugikan pemukul. Padahal, dalam kondisi cuaca Durban yang tidak menentu, bola pink bisa menjadi solusi agar pertandingan tidak terbuang sia-sia.