MENGAPA ISRAEL SIKAT JURNALIS DI LEBANON? HUKUM DIINJAK! - Berita Dunia
← Kembali

MENGAPA ISRAEL SIKAT JURNALIS DI LEBANON? HUKUM DIINJAK!

Foto Berita

Insiden memilukan kembali mengguncang dunia pers. Tiga jurnalis Lebanon, Fatima Ftouni dan Mohammed Ftouni dari Al Mayadeen, serta Ali Shuaib dari Al-Manar, tewas mengenaskan setelah kendaraan pers mereka dihantam empat rudal presisi Israel di Jalan Jezzine, Lebanon selatan, pada Sabtu lalu. Tragisnya, seorang paramedis juga ikut menjadi korban, sementara beberapa jurnalis lain dilaporkan terluka.

Kendaraan yang mereka gunakan sebenarnya sudah diberi tanda jelas sebagai kendaraan pers. Namun, ini tak menyurutkan serangan yang diklaim Israel menargetkan Ali Shuaib. Militer Israel beralasan, Shuaib diduga terafiliasi dengan unit intelijen Hezbollah, bertugas melacak posisi pasukan Israel, dan menyebarkan propaganda. Namun, tudingan ini dibantah keras oleh Al-Manar dan Al Mayadeen, yang menegaskan bahwa Ali Shuaib adalah salah satu koresponden perang paling berpengalaman yang hanya menjalankan tugas jurnalistiknya, sama seperti rekan-rekannya.

Perlu digarisbawahi, ini bukan kali pertama Israel menuduh wartawan targetnya punya hubungan dengan kelompok bersenjata, seringkali tanpa bukti kuat. Fakta ini menambah daftar panjang korban media, mengingat lebih dari 270 jurnalis juga telah kehilangan nyawa di Gaza akibat serangan Israel.

Presiden Lebanon Joseph Aoun geram, menyebut serangan itu "kejahatan mencolok" yang jelas melanggar hukum internasional, termasuk Konvensi Jenewa 1949 dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1738, yang menjamin perlindungan jurnalis di zona konflik. Nada serupa juga dilontarkan Perdana Menteri Nawaf Salam yang mengecam keras insiden ini sebagai "pelanggaran mencolok hukum humaniter internasional."

Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik regional yang kini sudah memasuki minggu keempat. Situasi di Lebanon selatan kian mencekam. Sejak 2 Maret, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 1.142 orang tewas dan lebih dari 3.300 terluka akibat serangan Israel. Pasukan Israel kini semakin merangsek jauh ke selatan, mendekati Sungai Litani, sementara di sisi lain, Hezbollah mengklaim telah melancarkan puluhan operasi terhadap pasukan Israel dalam 24 jam terakhir.

Al Mayadeen, media tempat Fatima dan Mohammed Ftouni bernaung, kini telah kehilangan enam jurnalisnya sejak konflik memanas. Ironisnya, sebelum insiden ini, Fatima Ftouni sempat melaporkan langsung di televisi tentang kematian paman dan keluarganya yang juga menjadi korban serangan Israel. Meski nyawa jadi taruhan, para jurnalis di lapangan, seperti yang disampaikan reporter Al Jazeera dari Tyre, tetap bertekad untuk terus meliput dan membawa kebenaran kepada publik, meskipun bahaya jelas mengintai setiap saat.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook