SAO PAULO - Ketegangan politik di Brazil memuncak jelang pemungutan suara pada 4 Oktober mendatang. Dua kubu utama, kubu petahana Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dan penantangnya, Flávio Bolsonaro, kompak menggelar kampanye akbar terakhir mereka pada Jumat waktu setempat.
Lula memilih Rio de Janeiro sebagai panggung terakhir untuk menggalang massa, sementara Bolsonaro menggelar aksi serupa di wilayah pedalaman Montes Carlos. Langkah ini diambil keduanya untuk memaksimalkan sisa waktu kampanye yang tersisa.
Yang menarik, hasil survei terbaru menunjukkan kedua kandidat berada dalam posisi 'head to head' atau selisih yang sangat tipis. Persaingan ini diprediksi akan berlangsung sengit hingga hari pencoblosan, mengingat belum ada satu pun kandidat yang unggul secara meyakinkan.
Analisis Dampak: Situasi ini menempatkan Brazil di titik krusial. Ketatnya persaingan berpotensi memicu polarisasi di masyarakat, mirip dengan situasi Pilpres sebelumnya. Bagi pasar global, ketidakpastian politik di Brazil seringkali berdampak pada fluktuasi harga komoditas, terutama karena Brazil adalah pemain utama di sektor pangan dan energi. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi gesekan antar pendukung menjelang hari-H.