Presiden AS Donald Trump kembali membuat gebrakan kontroversial di media sosial. Melalui akun Truth Social-nya, ia tidak hanya mendesak Senat AS untuk segera mengesahkan RUU Sunshine Protection Actâyang ia juluki 'RUU Tak Ada Lagi Ubah Jam'âtetapi juga membocorkan nomor ponsel pribadi Senator Tom Cotton dari Partai Republik.
Trump menuduh Cotton sebagai biang kerok yang menghambat disahkannya undang-undang tersebut. Menurut Trump, Cotton menghalangi keinginan mayoritas bipartisan untuk menghentikan ritual mengubah jam dua kali setahun. "Untuk beberapa alasan, Tom menghentikan RUU ini, dan di Senat, itu sangat mudah dilakukan, hanya butuh satu orang!" tulis Trump.
Sebagai bentuk tekanan, Trump mempublikasikan nomor yang diklaim sebagai milik Cotton dan meminta warga Arkansas untuk menghubunginya langsung. Langkah ini mengingatkan pada insiden tahun 2016 silam saat Trump juga menyebarkan nomor Senator Lindsey Graham. Ketika Al Jazeera mencoba menghubungi nomor tersebut, kotak suara penuh otomatis.
Cotton sendiri sebelumnya berargumen bahwa kebijakan ini akan membuat petani, pekerja konstruksi, dan anak-anak sekolah memulai aktivitas dalam kegelapan selama musim dingin. Namun, Trump menepis hal itu dan menekankan bahwa RUU ini akan menjadi kemenangan mudah bagi Partai Republik, sekaligus menguntungkan bagi industri golf (PGA Tour) karena memberikan lebih banyak cahaya di sore hari.
Analisis Dampak: Langkah Trump ini menunjukkan gaya kepemimpinan yang agresif dan personal, menggunakan tekanan publik untuk memecah kebuntuan legislatif. Bagi masyarakat AS, perdebatan ini bukan sekadar soal jam, melainkan produktivitas dan kesehatanâmengingat perubahan jam dikaitkan dengan gangguan tidur dan risiko kesehatan jantung. Jika RUU ini lolos, pola hidup masyarakat akan berubah permanen, dengan sore hari yang lebih terang sepanjang tahun.