Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, menyatakan bahwa operasi militer untuk mengakhiri kudeta Houthi tidak akan pernah mundur, apapun pengorbanan yang harus ditanggung. Pernyataan ini menegaskan posisi pemerintah Yaman yang didukung koalisi Arab Saudi dalam konflik berkepanjangan melawan kelompok Houthi yang menguasai ibu kota Sanaa sejak 2014.
Al-Alimi menekankan bahwa tidak ada jalan untuk kembali ke meja perundingan dengan Houthi selama kelompok tersebut masih melakukan kudeta terhadap pemerintahan sah. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya intensitas pertempuran di beberapa front utama, termasuk Marib dan Taiz, yang menjadi titik strategis dalam perang saudara yang telah berlangsung lebih dari delapan tahun.
Dampak bagi masyarakat Yaman sangat besar. Konflik ini telah menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan jutaan orang mengungsi dan bergantung pada bantuan internasional. Eskalasi militer yang terus berlanjut dikhawatirkan memperparah kelaparan dan penyakit, terutama di wilayah yang dikuasai Houthi yang masih terkena blokade.
Dari sumber lain, laporan PBB menyebutkan bahwa lebih dari 21 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sementara itu, upaya diplomasi yang dimediasi oleh Oman dan PBB belum membuahkan hasil signifikan. Pernyataan Al-Alimi ini justru menandakan bahwa jalur militer masih menjadi prioritas, meskipun risiko korban sipil terus meningkat.
Pengamat menilai bahwa sikap keras pemerintah Yaman bisa memperpanjang konflik dan mempersulit negosiasi damai. Namun, bagi pendukung pemerintah, ini adalah bentuk ketegasan untuk memulihkan legitimasi negara. Masyarakat internasional terus mendesak agar kedua belah pihak mengutamakan dialog, tetapi realitas di lapangan menunjukkan bahwa perang masih menjadi jalan yang dipilih.