Kabar baik datang dari medan perang Ukraina. Pemerintah Kyiv memastikan gangguan pada koneksi satelit Starlink yang sempat melumpuhkan operasi drone mereka selama lebih dari sepekan akhirnya sudah teratasi. Menteri Pertahanan Ukraina, Yevhenii Khmara, menyebut koneksi Starlink dan Starshield kini kembali stabil, bahkan untuk perangkat yang bergerak di kecepatan di atas 400 km/jam. Ia pun mengaitkan pemulihan ini dengan hasil pembicaraan intensif dengan Washington serta diplomasi Presiden Volodymyr Zelenskyy.
Namun, siapa dalang di balik pembatasan tersebut masih menjadi misteri. Presiden AS Donald Trump membantah bertanggung jawab, meski di saat yang sama membela Elon Musk. Insiden ini sempat memperkeruh hubungan Kyiv-Washington yang sudah memanas. Trump sebelumnya juga menuai kontroversi dengan menyerukan agar Ukraina punya presiden baru, dan menyarankan sosok selain Zelenskyy untuk mewakili Kyiv dalam negosiasi. Gesekan ini merupakan buntut dari pertemuan panas keduanya di Gedung Putih pada Februari 2025 silam.
Di tengah ketegangan itu, upaya perdamaian justru bergerak maju. Para negosiator dari Ukraina, Rusia, dan AS dijadwalkan bertemu di Abu Dhabi pada awal November mendatang, lebih dari empat tahun setelah invasi besar-besaran Rusia dimulai. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, telah mengonfirmasi rencana tersebut, dan Zelenskyy menyambut baik kesepakatan pertemuan di tingkat teknis ini.
Meski demikian, darah masih terus mengalir di lapangan. Serangan rudal Rusia di Lozova menewaskan satu warga dan melukai dua lainnya. Serangan di Chernihiv juga menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 25 warga. Di Kramatorsk, tembakan artileri menewaskan satu orang dan melukai enam lainnya, termasuk tiga anak. Ukraina pun membalas dengan menyerang fasilitas industri di dalam wilayah Rusia, termasuk pabrik petrokimia Togliattikauchuk dan pabrik elektronik Proton di Oryol yang memproduksi komponen rudal.