KEMATIAN WHISTLEBLOWER GUNCANG PENGAWAS KEUANGAN INGGRIS - Berita Dunia
← Kembali

KEMATIAN WHISTLEBLOWER GUNCANG PENGAWAS KEUANGAN INGGRIS

Foto Berita

Dunia keuangan Inggris tengah diguncang skandal besar setelah kematian tragis Simon Andriesz, mantan pegawai senior BGC Partners. Pria yang membongkar dugaan hubungan bisnis antara Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, dengan mendiang predator seks Jeffrey Epstein ini ditemukan tewas di Thailand pada 23 September lalu. Keluarganya menyatakan Andriesz mengakhiri hidupnya sendiri dan tidak ada indikasi kejahatan.

Sebelum meninggal, Andriesz melaporkan temuan sensitifnya ke Financial Conduct Authority (FCA), FBI, dan pengawas lainnya. Ia mengungkap bukti bahwa Lutnick—yang saat itu belum menjabat sebagai menteri—diduga berusaha 'membeli pangeran' dengan menawarkan kerja sama bisnis kepada Pangeran Andrew pada 2013. Tujuannya? Memanfaatkan koneksi kerajaan untuk menarik investasi, dengan imbalan pinjaman £1 juta. BGC membantah joint venture tersebut terealisasi.

Lebih dari itu, Andriesz juga menyerahkan bukti dugaan penyalahgunaan dana bonus broker di firma Lutnick. Ia menuding ada 'penggelapan' uang dari pool komisi untuk kepentingan tidak sah—tuduhan yang dibantah keras oleh perusahaan.

Yang membuat kasus ini semakin panas: Andriesz mengaku merasa 'dikhianati total' dan mengalami 'neraka absolut' dari FCA. Pasalnya, FCA menyatakan bukti retaliasi (pembalasan) terhadap dirinya 'tidak cukup', keputusan yang menurutnya mempersulit upaya hukumnya melawan BGC. BGC sendiri mengklaim punya kebijakan kuat melindungi whistleblower dan membantah melakukan pembalasan.

Sejumlah anggota parlemen Inggris kini menuntut investigasi menyeluruh terhadap cara FCA menangani pelapor pelanggaran. Mereka menilai kematian Andriesz memunculkan 'pertanyaan yang sangat mengganggu' tentang perlindungan bagi whistleblower yang melaporkan kejahatan korporasi dan menghadapi risiko balasan. Kasus ini menyoroti betapa rentannya posisi pelapor ketika berhadapan dengan institusi keuangan raksasa dan regulator yang seharusnya melindungi mereka.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook