Butuh tiga dekade setelah kepergiannya, tapi dunia akhirnya mengakui kehebatan Fela Kuti. Pionir Afrobeat yang juga dikenal sebagai kritikus sosial radikal ini baru saja menerima penghargaan Lifetime Achievement Grammy, menjadikannya musisi Afrika pertama yang meraih pengakuan prestisius ini. Sebuah pengakuan monumental, meski banyak yang menilai datang terlalu lambat.
Penghargaan anumerta tersebut diserahkan dalam sebuah seremoni di Los Angeles pada Sabtu, sehari sebelum gelaran Grammy Awards ke-68. Bagi keluarga dan para sahabat, yang beberapa di antaranya hadir, momen ini adalah kebanggaan yang diharapkan bisa mengamplifikasi gaung musik dan ideologi Fela ke generasi musisi serta penikmat musik yang lebih luas.
Namun, di balik kegembiraan itu, terselip nada ironi. Yeni Kuti, putri mendiang Fela, menyuarakan perasaannya kepada Al Jazeera: "Keluarga tentu senang. Kami bangga akhirnya ia diakui. Tapi, Fela tidak pernah dinominasikan (Grammy) semasa hidupnya." Ia menambahkan, meski "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," masih banyak pekerjaan rumah untuk memberikan pengakuan yang adil bagi musisi dari seluruh penjuru Afrika.
Lemi Ghariokwu, seniman kondang Nigeria yang mendesain 26 sampul album ikonik Fela, juga menyuarakan hal senada. "Fakta bahwa ini pertama kalinya musisi Afrika mendapat kehormatan ini menunjukkan bahwa apa pun yang ingin kita raih sebagai orang Afrika, kita harus berusaha lima kali lebih keras," ujarnya. Ia merasa terhormat bisa menyaksikan momen bersejarah ini, meski sedikit terkejut. "Fela itu sosok anti-kemapanan total. Dan sekarang, kemapanan justru yang mengakui dia," kata Ghariokwu, menangkap ironi yang mendalam.
Jika Fela masih hidup, Ghariokwu membayangkan ia akan bahagia, mungkin sambil mengangkat tinjunya dan berkata, "Kalian lihat, aku berhasil menarik perhatian mereka!" Namun, Yeni Kuti berpendapat lain. Menurutnya, ayahnya tidak terlalu peduli dengan penghargaan semacam itu. "Ia main musik karena cinta. Yang membuatnya bahagia adalah pengakuan dari rakyatnya, dari sesama manusia, dari sesama seniman," jelas Yeni.
Senada dengan itu, Yemisi Ransome-Kuti, sepupu Fela sekaligus kepala keluarga Kuti, yakin Fela akan berkata "terima kasih tapi tidak, terima kasih." Fela, katanya, tidak tergerak oleh pandangan umum atau apa yang orang lain pikirkan tentang musiknya. Fokusnya adalah bagaimana ia bisa memberi dampak pada profesi, komunitas, dan benuanya. Meskipun penghargaan ini mungkin tidak berarti banyak secara pribadi baginya, Yemisi percaya Fela akan mengakui nilai keseluruhannya: "Ia akan menyadari ini adalah langkah baik bagi institusi semacam itu untuk mulai memberi kehormatan yang memang layak diterima di seluruh benua."
Pengakuan Grammy ini bukan sekadar penghargaan musik biasa. Ini adalah penegasan kembali atas warisan Fela Kuti sebagai ikon budaya sekaligus suara perlawanan. Fela, dengan Afrobeat-nya yang kaya akan ritme Afrika, funk, jazz, dan lirik yang pedas, lantang mengkritik korupsi, penindasan, dan neo-kolonialisme di Nigeria dan Afrika. Ia bukan hanya seniman, melainkan juga aktivis politik yang rela dipenjara demi keyakinannya.
Dampak penghargaan ini sangat signifikan. Pertama, ini menempatkan musik Afrobeat dan musisi Afrika di garis depan kancah musik global, yang selama ini didominasi oleh musisi Barat. Ini bisa membuka pintu bagi lebih banyak pengakuan dan apresiasi terhadap genre dan artis dari benua Afrika. Kedua, ini mengingatkan generasi baru akan sosok dan pesan-pesan Fela yang relevan. Di tengah berbagai tantangan sosial dan politik yang masih melanda banyak negara, suara kritis Fela tetap bergema. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa seni, terutama yang berani melawan arus, pada akhirnya akan diakui dan dihargai, bahkan oleh institusi yang dulunya mungkin dikritiknya. Ini juga menjadi jembatan antara "anti-kemapanan" dan "kemapanan", sebuah dialektika yang menarik dalam sejarah budaya.