TEHERAN – Iran mengumumkan bahwa negosiasi dengan Oman terkait Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa laporan mengenai negosiasi tersebut telah disampaikan kepada kabinet dan prosesnya hampir selesai. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menambahkan bahwa kedua negara hampir mencapai kesepakatan mengenai jalur maritim baru yang terpisah dari koridor yang ada, dengan menghormati hak kedaulatan kedua belah pihak.
Kesepakatan ini muncul di tengah ketegangan setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari yang menargetkan program rudal Iran. Jalur pelayaran vital yang mengangkut sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia ini menjadi pusat perselisihan, terutama setelah gencatan senjata Juni yang gagal dan pertempuran kembali pecah pada Juli. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status sebelum perang, dan menuding AS sebagai penyebab penutupan jalur tersebut karena blokade laut dan pelanggaran komitmen.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) dengan AS akan menjadi landasan kebijakan luar negeri Teheran ke depan. Sementara itu, mediator disebut tengah berupaya menghidupkan kembali MoU Juni dengan fokus utama pada isu Hormuz. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda serangan baru ke Iran demi mencapai kesepakatan cepat.