Seorang buronan yang lama dicari Amerika Serikat akhirnya tertangkap. Álvaro Pulido, pria asal Kolombia berusia 62 tahun, ditangkap dalam operasi Homeland Security Task Force pada Minggu lalu. Ia sebelumnya masuk daftar pencarian orang karena diduga kuat terlibat dalam skandal pencucian uang raksasa yang mencuri dana bantuan sosial pemerintah Venezuela.
Pulido bukan sembarang buronan. DEA dan Departemen Luar Negeri AS sempat menawarkan hadiah Rp150 miliar untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya. Sebelum ditangkap di AS, ia sempat mendekam di penjara Venezuela sejak Maret 2023 karena kasus penggelapan keuntungan perusahaan minyak negara, PDVSA.
Jaksa federal AS mengungkapkan bahwa Pulido didakwa dalam dua kasus berbeda. Total uang yang dicuci mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp32 triliun. Modusnya? Ia bersama empat rekannya menyuap pejabat Venezuela untuk memenangkan kontrak pengadaan makanan dan obat-obatan bagi warga miskin. Harga yang ditagih ke pemerintah Venezuela digelembungkan sedemikian rupa, lalu keuntungannya dialirkan ke rekening bank di luar negeri, termasuk di AS.
Kasus ini mencuat kembali ke permukaan bersamaan dengan tertangkapnya Alex Saab, kolega Pulido yang merupakan orang dekat mantan Presiden Nicolás Maduro. Saab baru saja mengaku bersalah atas tuduhan pencucian uang bulan lalu. Jatuhnya Maduro dalam operasi militer AS di Caracas awal tahun ini membuat posisi Saab goyah. Pemerintahan transisi Venezuela yang didukung AS langsung mencopot jabatannya sebagai Menteri Industri dan mengekstradisinya ke AS.
Penangkapan Pulido menjadi pukulan telak bagi jaringan korupsi yang selama ini membelit pemerintahan Maduro. Bagi masyarakat Venezuela, pengungkapan kasus ini menjadi harapan baru bahwa dana bantuan sosial yang selama ini dinikmati oleh segelintir elit bisa suatu saat kembali ke tangan rakyat.