IKLAN JADI SENJATA SADAP JURNALISTIK GLOBAL - Berita Dunia
← Kembali

IKLAN JADI SENJATA SADAP JURNALISTIK GLOBAL

Foto Berita

Sebuah investigasi terbaru dari Citizen Lab mengungkap fakta mengejutkan: puluhan perangkat yang digunakan jurnalis Al Jazeera terinfeksi spyware melalui iklan digital. Laporan ini membongkar praktik pengawasan siber yang menyasar insan pers, bukan karena serangan langsung, melainkan lewat celah yang tak terduga.

Perusahaan teknologi iklan asal Israel, Discover-Tech, disebut berperan besar dalam penyebaran malware ini. Mereka membeli ruang iklan digital yang kemudian disisipi perangkat lunak mata-mata dari Candiru—firma spyware Israel yang sudah masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat sejak 2021. Yang bikin merinding, ini adalah kasus pertama yang terdeteksi menggunakan metode zero-click: begitu iklan muncul di layar perangkat, saat itu juga spyware langsung menyusup tanpa perlu korban mengklik apa pun.

Tim teknologi internal Al Jazeera sebenarnya sudah mencurigai adanya aktivitas tidak wajar pada perangkat sejumlah jurnalis sejak 2024. Pola aneh itu berlanjut hingga 2025, memaksa mereka menggandeng Citizen Lab untuk penyelidikan lebih dalam. Hasilnya? Bukti kuat bahwa serangan siber ini memang terkoordinasi dan menyasar jurnalis yang kerap meliput isu-isu sensitif.

Al Jazeera pun angkat bicara. Mereka mengecam keras tindakan ini dan menegaskan bahwa menargetkan jurnalis adalah serangan langsung terhadap kebebasan pers dan hak publik untuk tahu. Mereka menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.

Yang lebih mengkhawatirkan, laporan terpisah dari Confiant—firma keamanan iklan asal New York—mengungkap bahwa iklan dari Discover-Tech juga muncul di jaringan kritis yang digunakan Pentagon, Badan Tenaga Atom Internasional PBB, dan Mahkamah Pidana Internasional. Artinya, ini bukan sekadar serangan terhadap media, tapi potensi ancaman terhadap keamanan global.

Spyware Candiru sendiri bukan nama baru. Sebelumnya, perangkat lunak ini sudah terbukti digunakan untuk memata-matai lebih dari 100 jurnalis, aktivis, dan tokoh oposisi di berbagai negara. Kasus terbaru ini hanya menegaskan bahwa perang siber terhadap kebebasan pers masih berlangsung, dan kali ini, senjatanya adalah iklan yang kita lihat setiap hari.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook