Washington, DC - Ratusan musisi dikabarkan membatalkan partisipasi mereka dalam rangkaian konser perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Menanggapi hal ini, Presiden Donald Trump dengan tegas menyatakan tidak membutuhkan mereka yang dianggapnya tidak bahagia dan terlalu banyak menuntut bayaran.
Melalui platform Truth Social, Trump menulis bahwa ia hanya ingin dikelilingi oleh orang-orang yang sukses dan tahu cara menang. Ia bahkan memerintahkan timnya untuk menyiapkan acara tandingan berupa 'Great American State Fair' selama 16 hari di National Mall, Washington DC, yang akan diisi dengan elemen-elemen khas kampanyenya.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk politisasi perayaan hari kemerdekaan. Trump yang kembali menjabat pada Januari 2025, terlihat sangat antusias menyambut momen bersejarah ini dengan berbagai acara spektakuler seperti ajang UFC di Gedung Putih, Grand Prix di jalanan Washington, hingga pertunjukan kembang api terbesar di dunia pada 4 Juli.
Di sisi lain, komisi resmi 'America 250' bentukan Kongres memilih pendekatan yang lebih sederhana dengan menggelar pameran seni dan pesta blok di seluruh negeri. Perbedaan pendekatan ini menimbulkan kesan adanya dua kubu yang bersaing: satu pihak menginginkan perayaan inklusif, sementara pihak lain menginginkan perayaan yang sarat dengan simbol kekuasaan.
Dampak dari situasi ini cukup signifikan. Selain memecah belah semangat persatuan yang seharusnya menjadi inti perayaan kemerdekaan, langkah Trump juga berpotensi menguras anggaran negara untuk proyek 'beautifikasi' Washington. Beberapa proyek seperti pelapisan emas patung kuda perunggu dan perbaikan kolam refleksi Lincoln Memorial menuai kritik karena dianggap tidak prioritas di tengah tekanan ekonomi.