Situasi di perbatasan Afghanistan dan Pakistan kembali memanas. Setelah beberapa hari lalu diguncang serangan udara mematikan dari Pakistan, kini bentrokan bersenjata baru kembali pecah pada Selasa (19/3) kemarin. Ironisnya, kedua negara saling tuding siapa yang memulai insiden penembakan ini.
Pemerintah Afghanistan melalui Zabihullah Noorani, Kepala Departemen Informasi Provinsi Nangarhar, menuding pasukan Pakistan melepaskan tembakan lebih dulu di area Shahkot, dekat perbatasan. Menurutnya, baku tembak itu kini telah mereda dan tidak ada korban jiwa dari pihak Afghanistan. Namun, narasi berbeda datang dari pihak Pakistan. Pejabat pemerintah Pakistan, Mosharraf Zaidi, menuduh pasukan Afghanistan menembak tanpa provokasi di dekat area perbatasan Torkham. Zaidi menegaskan, pasukan keamanan Pakistan segera merespons dengan efektif untuk membungkam agresi tersebut.
Insiden terbaru ini adalah kelanjutan dari ketegangan yang memuncak pascaserangan udara Pakistan pada Minggu (17/3) di Provinsi Nangarhar dan Paktika, Afghanistan. Misi PBB di Afghanistan melaporkan sedikitnya 13 warga sipil tewas akibat serangan tersebut. Sementara itu, pemerintah Taliban Afghanistan mengklaim korban tewas mencapai 18 orang, sekaligus membantah klaim Pakistan bahwa operasi militer itu menewaskan lebih dari 80 militan.
Ketegangan antara dua negara tetangga ini memang terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Pakistan berulang kali menuduh Afghanistan gagal menindak kelompok bersenjata yang melancarkan serangan di wilayahnya, termasuk serangan bom bunuh diri mematikan di sebuah masjid Syiah di Islamabad. Klaim ini dibantah keras oleh pemerintah Taliban Afghanistan. Pihak militer Pakistan berdalih serangan udaranya menargetkan 'kamp dan persembunyian' kelompok bersenjata tersebut. Namun, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengecam serangan itu, menyebutnya sebagai serangan terhadap 'sekolah agama dan rumah penduduk', yang mengakibatkan 'puluhan kematian dan cedera, termasuk perempuan dan anak-anak'. Mereka menegaskan akan memberikan respons yang 'terukur dan tepat'.
Konflik perbatasan yang terus berulang ini tidak hanya memperburuk hubungan diplomatik, tetapi juga mengancam stabilitas regional dan berdampak langsung pada kehidupan warga sipil. Penutupan perbatasan darat yang sering terjadi, seperti yang terlihat sejak bentrokan mematikan pada Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak, menghambat perdagangan dan pergerakan masyarakat. Eskalasi ini menyoroti perlunya deeskalasi segera dan dialog konstruktif untuk mencegah krisis kemanusiaan dan keamanan yang lebih besar.