IRAN-AS ADU KUAT DI MEJA NUKLIR: TRUMP MAIN BELAKANG? - Berita Dunia
← Kembali

IRAN-AS ADU KUAT DI MEJA NUKLIR: TRUMP MAIN BELAKANG?

Foto Berita

Negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat memasuki babak kedua yang krusial di Jenewa, Swiss, pada Selasa ini. Presiden AS, Donald Trump, memastikan dirinya akan terlibat 'secara tidak langsung' dalam perundingan berisiko tinggi tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah tiba di Jenewa membawa ‘ide-ide nyata’ untuk mencapai kesepakatan yang adil, di tengah ketegangan yang memuncak di kawasan Teluk.

Situasi di kawasan Teluk tetap panas jelang pertemuan penting ini. Washington baru saja mengerahkan kapal induk kedua ke wilayah tersebut, sementara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mengancam perang regional jika Iran diserang. Trump sendiri optimis Iran akan termotivasi untuk mencapai kesepakatan kali ini, mengingat konsekuensi dari pendekatan keras mereka sebelumnya, termasuk serangan AS dan Israel terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu.

Namun, perundingan ini masih dibayangi hambatan besar. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium di negaranya dan ingin memperluas pembahasan ke isu non-nuklir, seperti rudal. Di sisi lain, Tehran kukuh program nuklirnya untuk tujuan damai, hanya bersedia membahas pembatasan programnya dengan imbalan pencabutan sanksi, menolak pengayaan nol, dan menyatakan kemampuan rudal mereka ‘tidak bisa diganggu gugat’.

Dalam konteks ini, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) turut mendesak Iran untuk menjelaskan nasib 440 kg uranium yang diperkaya tinggi pasca-serangan Israel-AS, serta mengizinkan inspeksi penuh, terutama di tiga situs yang dibombardir: Natanz, Fordow, dan Isfahan. Iran telah memberi akses terbatas ke situs yang tidak rusak namun menolak akses ke lokasi lain, dengan alasan risiko radiasi. Keberhasilan atau kegagalan negosiasi ini akan sangat menentukan stabilitas di Timur Tengah yang bergejolak dan berpotensi mempengaruhi geopolitik serta pasar energi global.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook