Kuba tengah berjuang menghadapi krisis ekonomi dan energi yang semakin parah. Pasalnya, blokade energi ketat dari Amerika Serikat (AS) telah memutus pasokan vital selama tiga bulan terakhir, memicu pemadaman listrik meluas dan kesulitan hidup bagi rakyatnya. Namun, ada secercah harapan.
Kapal pertama dari konvoi bantuan kemanusiaan “Nuestra America” dilaporkan sukses merapat di Havana pada Selasa lalu. Kapal bernama “Granma 2.0” ini berlayar dari Puerto Progreso, Meksiko, membawa sekitar 30 orang serta aneka pasokan penting seperti makanan, obat-obatan, panel surya, hingga sepeda. Dua kapal lain dari konvoi yang sama juga disebut sedang dalam perjalanan.
Kedatangan bantuan ini bukan hanya sekadar uluran tangan, melainkan juga simbol solidaritas kuat. Menurut aktivis Thiago Avila, pengiriman ini merupakan 'setetes air di lautan kebutuhan', tapi sekaligus 'gerakan solidaritas' yang penting. Ia menyebut blokade AS sebagai “perang ekonomi” dan “sikap negara bajak laut” yang tak menghargai hukum internasional. Selama tiga bulan terakhir, larangan impor minyak oleh AS disebut hampir total, membuat Kuba yang hanya memproduksi 40 persen kebutuhan bahan bakarnya, benar-benar kelimpungan mencari diesel, bahan bakar jet, bensin, hingga elpiji.
Blokade ini bukan hal baru. AS telah menerapkan embargo ekonomi terhadap Kuba puluhan tahun lamanya. Namun, pembatasan energi di era Presiden Donald Trump dan sekutunya makin memperparah kondisi. Washington secara terbuka menyatakan keinginan mereka untuk 'mengganti rezim' di Kuba, bahkan Trump pernah berujar bisa 'mengambil alih' dan memilih pemerintah yang sesuai keinginannya.
Meski demikian, kebijakan keras AS ini tak sepenuhnya didukung di dalam negeri mereka sendiri. Sebuah survei YouGov pada Februari lalu menunjukkan 46 persen warga AS tidak setuju dengan blokade energi ini, sementara hanya 28 persen yang mendukung. Mayoritas tipis, sekitar 29 persen, bahkan menilai pendekatan AS terhadap Kuba terlalu keras. Kondisi ini menunjukkan adanya perpecahan opini di AS terhadap kebijakan luar negeri mereka.
Kedatangan bantuan ini, meski terbilang kecil, menjadi bukti bahwa Kuba tidak sendiri. Ini juga merupakan upaya menyoroti penderitaan rakyat Kuba yang kini menghadapi antrean panjang untuk kebutuhan pokok dan ancaman kelaparan, akibat blokade yang terus dicekik AS. Solidaritas internasional seperti ini diharapkan bisa membuka mata dunia akan krisis kemanusiaan yang sedang terjadi di 'Pulau Karibia' itu.