Dunia intelijen Rusia kembali digegerkan dengan pengakuan langka dari dua pria yang diam-diam bekerja untuk badan intelijen militer Ukraina (GUR). Dalam dokumenter terbaru BBC World Service berjudul Shadowmen: Russians working with Ukraine, kedua pria yang diidentifikasi dengan nama samaran Ivan dan Foma membuka tabir operasi sabotase di dalam negeri Rusia.
Ivan mengaku terlibat langsung dalam serangkaian serangan drone Ukraina yang menyasar pesawat pembom strategis dan pabrik amunisi di wilayah Rusia. Sementara itu, Foma—seorang Rusia yang hidup dalam pengasingan di Polandia—mengaku memimpin jaringan relawan bawah tanah yang bertugas memata-matai perwira tinggi militer Rusia yang menjadi target GUR. Ia bahkan mengakui telah memasok intelijen yang berujung pada tewasnya Letnan Jenderal Fanil Sarvarov di Moskow pada Desember tahun lalu akibat alat peledak yang disembunyikan di bawah mobilnya.
Pihak GUR telah mengonfirmasi bahwa kedua pria tersebut memang bekerja untuk mereka. Namun, baik pihak intelijen maupun kedua narasumber tetap bungkam soal detail spesifik operasi, sehingga klaim mereka sulit diverifikasi secara independen. Meski demikian, taktik yang mereka jelaskan—serangan drone terkoordinasi dan penggunaan agen rahasia—sejalan dengan strategi yang selama ini diakui Ukraina dalam melawan Rusia.
Analisis Dampak: Pengungkapan ini menjadi pukulan psikologis bagi rezim Kremlin. Keberadaan jaringan agen bayangan yang jumlahnya diperkirakan mencapai 300-500 orang (menurut klaim Foma) menunjukkan bahwa pertahanan dalam negeri Rusia memiliki celah keamanan yang serius. Bagi masyarakat internasional, ini menjadi gambaran nyata bahwa perang tidak hanya terjadi di garis depan, tetapi juga merambah ke operasi senyap di jantung kota Moskow, yang tentunya meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih tidak terprediksi.