Sebuah kabar mengejutkan datang dari India. Otoritas setempat baru saja membekuk tujuh warga negara asing, terdiri dari enam warga Ukraina dan satu warga Amerika Serikat, atas dugaan serius: masuk tanpa izin dan melatih kelompok bersenjata di negara tetangga Myanmar menggunakan teknologi drone. Penangkapan ini sontak memicu pertanyaan besar soal keterlibatan pihak asing dalam konflik regional dan dampaknya pada peta geopolitik Asia.
Para terduga ini ditangkap Kepolisian India pada 13 Maret di tiga bandara berbeda, yakni Kolkata, Lucknow, dan Delhi. Mereka didakwa oleh National Investigation Agency (NIA), badan kontra-terorisme utama India, dengan tuduhan melanggar undang-undang anti-teror. Rencananya, mereka akan ditahan hingga 27 Maret untuk penyelidikan lebih lanjut.
Dari tujuh orang yang ditangkap, salah satunya diidentifikasi sebagai Matthew Aaron VanDyke dari Amerika Serikat. VanDyke dikenal sebagai pendiri Sons of Liberty International, sebuah firma konsultan yang mengklaim menyediakan pelatihan keamanan non-lethal untuk 'populasi rentan'. Menariknya, VanDyke punya latar belakang panjang di zona konflik, pernah terlibat di perang Irak dan Libya, serta beroperasi di Ukraina antara 2022-2023. Sementara itu, enam warga Ukraina lainnya — Hurba Petro, Slyviak Taras, Ivan Sukmanovskyi, Stefankiv Marian, Honcharuk Maksim, dan Kaminskyi Viktor — belum banyak terungkap detailnya.
Dugaan awal NIA, para warga asing ini masuk ke negara bagian Mizoram di India timur laut tanpa izin sah, lalu menyeberang secara ilegal ke Myanmar. Tujuan mereka jelas: melatih kelompok-kelompok bersenjata di sana tentang penggunaan drone tempur. Konflik sipil di Myanmar pasca-kudeta militer 2021 memang kian memanas, dan penggunaan drone telah menjadi elemen krusial bagi kedua belah pihak. Keterlibatan asing dalam pelatihan ini tentu saja bisa memperpanjang konflik dan menambah kompleksitas situasi.
Penangkapan ini juga menempatkan India dalam posisi dilematis, terutama dalam menjaga hubungan dengan Amerika Serikat dan Ukraina, di saat India berupaya mempertahankan netralitas di panggung internasional, khususnya terkait perang Ukraina-Rusia. Latar belakang VanDyke sebagai veteran konflik dan operasi di Ukraina menambah lapisan sensitivitas. Siapa sebenarnya yang mereka latih di Myanmar? Apa motif sebenarnya? Apakah ada aktor negara di balik ini, atau murni inisiatif pribadi/organisasi? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menunggu jawaban dari hasil penyelidikan NIA.
Bersamaan dengan insiden ini, kepolisian setempat juga menangkap dua turis Amerika lain di Kochi beberapa waktu lalu. Katie Michelle Phelps (32) dan Christopher Ross Harvey (35) ditangkap karena menerbangkan drone di dekat markas Coast Guard India. Lokasi ini sendiri sangat sensitif karena India sedang menampung para pelaut dari kapal Iran yang sempat ikut latihan militer di sana Februari lalu. Walau terpisah, kedua insiden ini mengindikasikan bahwa India kini sangat waspada terhadap aktivitas drone asing di wilayahnya.