Jakarta - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memang berhasil membuat harga minyak dunia anjlok ke level terendah dalam tiga bulan. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa masyarakat Amerika Serikat tidak boleh berharap harga bensin di pompa akan langsung turun drastis.
Penutupan Selat Hormuz selama lebih dari tiga bulan akibat konflik telah memutus jalur transit seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Meskipun Presiden AS Donald Trump optimistis harga akan 'turun drastis' begitu selat dibuka, para ahli justru melihat sebaliknya.
Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga bensin di AS masih bertahan di atas USD 4 per galon, tepatnya USD 4,06 secara nasional. Angka ini memang sudah turun dari puncaknya di awal Mei yang mencapai USD 4,48 per galon, tapi masih jauh dari harga sebelum perang yang hanya USD 2,98 per galon pada 28 Februari lalu.
Patrick De Haan, analis utama dari GasBuddy, memperkirakan harga akan memasuki fase stagnan. Ia bahkan memproyeksikan konsumen tidak akan melihat harga kembali ke level sebelum konflik setidaknya hingga tahun 2027. "Butuh waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih dari setahun, bagi inventaris minyak global untuk pulih," ujarnya.
Ada beberapa faktor yang menghambat penurunan harga. Pertama, para produsen minyak butuh waktu untuk meningkatkan kembali produksi mereka. Kedua, kemacetan di pelabuhan-pelabuhan utama masih menjadi kendala logistik. Ketiga, musim liburan musim panas yang sibuk justru meningkatkan permintaan bahan bakar secara signifikan.
John Deal dari Post Oak Group menambahkan bahwa banyak perusahaan dan organisasi kini harus mengisi kembali stok cadangan strategis mereka serta memenuhi kontrak-kontrak yang tertunda selama konflik. Proses memperbaiki rantai pasok yang sempat terputus ini tidak bisa instan.
Dampaknya bagi masyarakat global, terutama negara pengimpor minyak seperti Indonesia, adalah fluktuasi harga yang masih akan terasa. Meski tren penurunan sudah mulai terlihat, stabilitas harga jangka panjang masih bergantung pada seberapa cepat infrastruktur energi global bisa pulih dari guncangan konflik.