Israel kembali jadi sorotan dunia atas 'pembukaan kembali' pintu perbatasan Rafah di Gaza. Namun, kebijakan pembatasan transit yang hanya memperbolehkan 50 pasien per hari ini memicu kekhawatiran besar, bahkan disebut mempertaruhkan ribuan nyawa pasien yang membutuhkan pertolongan medis segera.
PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan telah memperingatkan bahwa pembatasan akses vital ini bisa berakibat fatal. Dr. James Smith, seorang ahli kemanusiaan, mengungkapkan bahwa dengan kecepatan evakuasi seperti itu, dibutuhkan waktu lebih dari setahun untuk mengeluarkan sekitar 20.000 pasien yang saat ini mengantre untuk perawatan di luar Gaza. Angka ini jauh dari ideal, mengingat kondisi medis banyak pasien yang kritis.
Kondisi ini kian memperparah krisis kesehatan di Jalur Gaza yang sudah porak-poranda akibat konflik berkepanjangan. Banyak rumah sakit hancur, pasokan medis menipis, dan tenaga kesehatan terbatas. Bagi ribuan warga Gaza yang sakit parah atau terluka, perjalanan keluar melalui Rafah bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya harapan untuk bertahan hidup.
Tanpa akses yang memadai dan cepat, potensi meningkatnya angka kematian dan penderitaan akan semakin besar, menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas dan kemanusiaan dari 'pembukaan' pintu perbatasan ini. Komunitas internasional terus menyerukan agar Israel segera membuka koridor kemanusiaan yang lebih luas demi menyelamatkan nyawa pasien, sebelum terlambat.