Konflik di Timur Tengah seringkali identik dengan kekuatan militer, namun sebuah "perang" tak kasat mata sedang berlangsung, membentuk ulang peta kekuatan kawasan. Kini terungkap, Israel secara perlahan menancapkan kuku dominasi energi atas negara-negara tetangga Arabnya, sebuah kontrol yang jauh lebih dalam dari sekadar urusan bisnis. Ini bukan sekadar kesepakatan dagang biasa, melainkan instrumen strategis yang berpotensi mengubah dinamika regional.
Data mengejutkan menunjukkan Mesir dan Yordania, yang kini dikenal sebagai penyuplai gas vital bagi Suriah dan berencana ke Lebanon melalui Jalur Pipa Gas Arab, sejatinya sangat bergantung pada impor gas dari Israel.
Mesir, meskipun dikenal sebagai produsen gas, produksi domestiknya menurun drastis, mencapai titik terendah enam tahun terakhir pada 2024. Akibatnya, impor gasnya melonjak, dengan sebagian besar pasokan—sekitar 10 miliar meter kubik per tahun—datang langsung dari Israel. Bahkan, Kairo baru saja meneken kesepakatan fantastis senilai $35 miliar untuk impor gas dari Israel hingga tahun 2040.
Situasi serupa dialami Yordania yang notabene bukan produsen gas utama. Negeri ini mengimpor hampir seluruh kebutuhan gasnya, mayoritas juga dari Israel serta Mesir.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan krusial: gas yang disalurkan Mesir dan Yordania ke Suriah itu, sebenarnya dari mana? Beberapa laporan menyebutnya berasal dari Israel, sementara yang lain mengklaim itu adalah Gas Alam Cair (LNG) global yang diregasifikasi di pelabuhan Aqaba, Yordania. Namun, apa pun sumber pastinya, kenyataan ketergantungan pada rantai pasokan yang dikuasai Israel tidak bisa dihindari.
Ironisnya, Jalur Pipa Gas Arab yang tadinya dibangun sebagai simbol kerja sama dan pembangunan antarnegara Arab, kini justru menjadi koridor utama bagi meluasnya pengaruh energi Israel.
Lebih dari sekadar transaksi komersial, kontrol energi ini merupakan tuas geopolitik non-militer yang sangat ampuh. Hal ini memungkinkan Israel untuk memperkuat posisinya dan memajukan agenda strategisnya di kawasan, tanpa perlu mengerahkan kekuatan militer secara langsung. Di tengah gejolak dan ketegangan yang terus melanda Timur Tengah—termasuk konflik yang sering dikaitkan dengan intervensi AS-Israel di kawasan—ketergantungan energi ini menjadi alat tawar-menawar politik yang signifikan. Ini adalah babak baru dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah, di mana pipa gas menjadi lebih dari sekadar infrastruktur, melainkan senjata strategis.