Serangan udara Rusia terhadap pusat distribusi bantuan di desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhia, Ukraina, menjadi salah satu yang paling mematikan tahun ini. Korban tewas terus bertambah dan kini mencapai 53 orang setelah tim penyelamat menemukan delapan jenazah tambahan dari reruntuhan pada Jumat (7/11).
Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung memasuki hari kelima. Pihak berwenang memperkirakan masih ada sekitar 39 orang yang terjebak di bawah puing-puing bangunan. Untuk mengidentifikasi korban yang sulit dikenali, tim forensik telah mengambil sampel DNA dari jenazah yang ditemukan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengungkapkan bahwa serangan ini menggunakan taktik 'double-tap strike'. Setelah bom pertama menghantam sekolah yang dijadikan lokasi pembagian bantuan, gelombang serangan kedua justru menyasar tempat perlindungan bawah tanah tempat warga berlindung, sehingga memicu korban jiwa yang besar. Insiden ini juga menewaskan empat anggota polisi dan dua petugas penyelamat.
Misi Pemantauan Hak Asasi Manusia PBB menilai serangan ini kemungkinan besar melanggar hukum internasional. Sementara itu, upaya diplomasi masih terus diupayakan dengan rencana pertemuan delegasi Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10-11 November mendatang, meskipun hasilnya belum menunjukkan kemajuan signifikan.