Situasi di Timur Tengah memanas. Ultimatum 48 jam Presiden AS Donald Trump agar Iran membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi serangan pada pembangkit listriknya segera berakhir. Ketegangan ini makin menjadi setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran, dengan laporan ledakan dahsyat di Teheran. Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang kini memasuki hari ke-24 ini menandai eskalasi serius di kawasan.
Iran sendiri tak tinggal diam. Mereka mengancam akan membalas dengan menyerang sistem energi dan air negara-negara tetangganya di Teluk jika Washington benar-benar menargetkan jaringan listriknya. Gejolak geopolitik ini langsung mengguncang perekonomian global. Bursa saham di China dan Hong Kong merosot tajam, mencatat kinerja terburuk dalam setahun terakhir, dipicu kekhawatiran stagflasi dan ketidakpastian pasar finansial. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, bahkan menggelar rapat darurat untuk menyikapi dampak ekonomi yang terus memburuk akibat perang. Di tengah ancaman dan balasan, serangan masih terus berlangsung di Iran, Israel, dan negara-negara Teluk.
Dampak konflik ini sangat luas. Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia, bisa memicu krisis energi global dan lonjakan inflasi. Hal ini menambah tekanan pada ekonomi dunia yang sudah rentan, berpotensi memicu resesi dan memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan. Kekhawatiran akan stabilitas global makin meningkat seiring dengan eskalasi konflik di salah satu wilayah paling strategis di dunia ini.