Wakil Perdana Menteri Qatar, Sheikh Saoud bin Abdulrahman Al Thani, memperingatkan bahwa dampak guncangan energi global akibat konflik AS-Israel dengan Iran belum mencapai puncaknya. Dalam Forum Keamanan Global di Doha, ia menyoroti risiko terhadap kedaulatan negara dan gangguan pasokan energi yang masih mengintai dalam beberapa hari dan bulan ke depan.
Pernyataan ini muncul di tengah ketidakstabilan Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Serangan balasan Iran pada Maret lalu sempat merusak fasilitas industri Ras Laffan di Qatar, dan perbaikannya diperkirakan memakan waktu hingga bertahun-tahun.
Meski begitu, Qatar menegaskan komunikasi dengan Teheran tidak pernah terputus. Al Thani menolak wacana pengenaan biaya transit di Selat Hormuz karena hanya akan membebani konsumen global. Ia juga berharap mediasi Qatar, Pakistan, dan Oman dapat menghasilkan kesepakatan antara AS, Iran, dan pihak terkait lainnya, dengan syarat dialog regional yang lebih luas dan dibangun atas dasar kepercayaan.
Sebagai informasi tambahan, Qatar juga menegaskan komitmennya memperkuat kemitraan pertahanan dengan Washington, mengklaim lebih dari 90 persen serangan berhasil dicegah berkat kerja sama militer yang telah terbangun selama tiga hingga empat dekade terakhir.