Hubungan Amerika Serikat dengan komunitas Kurdi di Timur Tengah kini diwarnai kecurigaan mendalam. Sebuah pesan telak datang bulan lalu saat bentrokan sengit antara pasukan Kurdi dan tentara Suriah: kemitraan Washington dengan Kurdi "telah kedaluwarsa". Langkah ini bukan sekadar perubahan prioritas, melainkan sinyal jelas bahwa AS berpihak pada Damaskus dan meninggalkan Kurdi di saat paling rentan.
Keputusan AS ini menciptakan dampak luas, tidak hanya bagi komunitas Kurdi di Suriah, tapi juga di Irak, Turki, dan Iran. Kurdi kini melihat AS bukan lagi sebagai mitra yang bisa diandalkan atau pelindung kelompok minoritas. Mereka khawatir, dukungan AS terhadap Damaskas di bawah Presiden sementara Ahmed al-Sharaa akan membuka jalan bagi terbentuknya negara Suriah yang sentralistik. Kecemasan ini beralasan kuat; pengalaman historis menunjukkan negara sentralistik di Timur Tengah kerap meminggirkan, mengecualikan, bahkan mengasimilasi minoritas Kurdi.
Meskipun Presiden al-Sharaa mengeluarkan dekrit pada 16 Januari yang menjanjikan beberapa hak bagi Kurdi, serta kesepakatan 30 Januari antara Damaskus dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang mengakui "wilayah Kurdi" secara terbatas, komunitas Kurdi tetap waspada. Pengakuan ini memang langkah maju yang tak pernah ada sebelumnya, namun mereka curiga janji-janji tersebut sulit dipertahankan jika Suriah benar-benar menjadi negara terpusat. Mayoritas kelompok Kurdi kini sepakat bahwa perlawanan bersenjata belum menjadi opsi strategis, namun setiap keterlibatan masa depan dengan AS pasti akan disikapi dengan penuh ketidakpercayaan.
Pergeseran geopolitik ini juga memengaruhi dinamika regional lainnya. Di Irak, rivalitas lama antara partai Syiah dan Kurdi kini berubah haluan. Keduanya mulai melihat perkembangan di Suriah dan potensi perubahan di Iran dengan rasa ancaman yang sama, memicu munculnya kepentingan bersama. Jika dulu aliansi mereka didorong oleh penderitaan di bawah Saddam Hussein, kini mereka bersatu karena kekhawatiran akan masa depan dan potensi peminggiran di kawasan. Ini menunjukkan bagaimana keputusan satu negara adidaya bisa merombak peta aliansi dan stabilitas di seluruh wilayah.