Perang saudara yang berkepanjangan di Sudan tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga memicu krisis kelaparan yang mengancam generasi mendatang. Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) sejak April 2023 telah membuat ribuan anak mengalami malnutrisi akut, sementara akses ke fasilitas kesehatan semakin sulit dijangkau.
Kisah pilu datang dari Layla Ali, warga Desa al-Lalouba, yang harus menempuh perjalanan dua setengah jam ke Port Sudan demi menyelamatkan putranya, Adam (5 tahun). Kondisi Adam sangat kritis; tulang rusuknya terlihat menonjol karena kelaparan, dan ia sudah tidak mau makan selama dua minggu. Keterbatasan biaya dan jarak sempat membuat Layla menunda pengobatan, namun kondisi Adam yang memburuk memaksanya untuk segera membawanya ke rumah sakit. "Kami menghabiskan lima hari di rumah sakit... kali ini saya membawanya karena takut dia meninggal," ujarnya.
Data dari Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) memperkirakan bahwa pada tahun 2026, sekitar 825.000 anak di bawah usia lima tahun akan menderita malnutrisi akut parah, naik 7 persen dari tahun sebelumnya. Hanya dalam enam bulan pertama tahun ini, UNICEF dan mitra telah merawat 174.700 anak dengan kondisi serupa di seluruh negeri. Di Rumah Sakit Pendidikan Port Sudan saja, tercatat 433 kasus antara Januari hingga Agustus.
Maryam Gadalsid, konselor gizi di rumah sakit tersebut, mengungkapkan bahwa lonjakan pasien memaksa staf medis untuk menampung sebanyak mungkin anak, menyebabkan ruang perawatan menjadi penuh sesak. Dalam unit malnutrisi berkapasitas 17 tempat tidur, terpaksa diisi hingga tiga anak per kasur, yang justru meningkatkan risiko penyebaran penyakit. Meskipun pasokan susu terapeutik dan bantuan gizi dari WHO serta UNICEF diberikan gratis, biaya obat-obatan dan cairan infus tetap menjadi beban finansial berat bagi keluarga di tengah krisis ekonomi akibat perang.
Selain itu, kurangnya asupan gizi pada ibu hamil akibat pengungsian dan kesulitan ekonomi turut meningkatkan risiko bayi lahir dengan gangguan pertumbuhan. Kondisi diperparah dengan meningkatnya populasi lalat dan nyamuk pembawa penyakit seperti malaria, yang sangat berbahaya bagi anak-anak dengan sistem imun lemah. Memasuki musim dingin, kasus malnutrisi diprediksi akan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lalat yang mencemari makanan dan air.