London, Inggris — Otoritas persaingan usaha Inggris (CMA) resmi memerintahkan Google untuk membuka tabir misteri di balik algoritma pencariannya. Aturan baru ini mewajibkan raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu untuk lebih transparan soal cara kerja peringkat hasil pencarian.
CMA, yang pada tahun lalu sudah menetapkan Google sebagai perusahaan dengan 'status pasar strategis', memberikan tenggat waktu enam bulan bagi Google untuk menerapkan aturan peringkat yang adil. Selain itu, Google juga harus memungkinkan pengguna mentransfer data pencarian mereka ke pihak ketiga dalam waktu tiga bulan.
"Selangkah demi selangkah, kami memastikan layanan pencarian Google bekerja lebih baik bagi bisnis dan konsumen di seluruh Inggris," ujar Will Hayter, Direktur Eksekutif Pasar Digital CMA, seperti dikutip dari laporan Al Jazeera.
Aturan ini muncul setelah banyak pengusaha Inggris mengeluh bahwa praktik peringkat Google saat ini tidak adil dan tidak transparan. Padahal, bagi banyak perusahaan lokal, Google adalah 'pintu gerbang' utama untuk menjangkau pelanggan. Data menunjukkan, Google menguasai lebih dari 90 persen pangsa pasar mesin pencari di Inggris.
Dampak dan Konteks Lebih Luas:
Keputusan CMA ini bukan sekadar soal peringkat pencarian. Ini adalah bagian dari rezim baru persaingan pasar digital Inggris yang mulai berlaku pada Januari 2025. Regulasi ini memberi kewenangan kepada CMA untuk mengambil tindakan spesifik terhadap raksasa teknologi yang dianggap dominan.
Sebelumnya, CMA juga sudah memerintahkan Google untuk memberi izin kepada penerbit agar bisa mencegah konten mereka digunakan untuk melatih fitur kecerdasan buatan (AI) milik Google. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tidak hanya soal monopoli pencarian, tetapi juga soal etika penggunaan data di era AI.
Yang menarik, pengumuman ini datang berbarengan dengan rencana Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang akan melarang anak di bawah 16 tahun mengakses media sosial. Langkah ini menunjukkan Inggris sedang gencar-gencarnya mengatur ulang hubungan antara negara, warga, dan perusahaan teknologi global.