Jakarta - Program digitalisasi pertanian di Tanzania menghadapi tantangan besar. Meskipun pemerintah telah meluncurkan platform M-Kilimo dan e-Kilimo untuk membantu petani mengakses informasi pasar dan saran pertanian, banyak petani di lapangan yang masih kesulitan memanfaatkannya.
Seorang petani asal Desa Paranga, Theresia Abel Nyoka, mengaku belum pernah mendaftar layanan tersebut karena kurangnya edukasi. "Kami tidak diberikan penjelasan. Saya tidak tahu pentingnya atau manfaatnya," ujarnya. Kondisi ini diperparah dengan lambatnya respons sistem. Jeremiah Luwe (49), petani asal Kongwa, mengeluh bahwa jawaban atas pertanyaan seputar pasar bisa memakan waktu hingga dua minggu. "Informasinya sering datang terlambat, sudah tidak berguna lagi," keluhnya.
Pemerintah Tanzania sebenarnya tengah menggelontorkan dana sebesar 3,62 juta dolar AS melalui program Data for Digital Agricultural Transformation (September 2024 - Agustus 2027). Program ini menargetkan peningkatan literasi digital bagi 500.000 petani dan pelatihan bagi 500 penyuluh pertanian. Namun, data Kementerian Pertanian menunjukkan masih ada sekitar 400.000 pendaftaran yang belum selesai, menandakan adanya kendala akses dan literasi.
Analisis Dampak: Kesenjangan antara ketersediaan teknologi dan kesiapan pengguna menjadi masalah utama. Jika layanan digital ini tidak diimbangi dengan pendampingan intensif dan perbaikan infrastruktur respons, petani akan tetap bergantung pada metode konvensional seperti lelang dan pertemuan desa. Hal ini berpotensi menghambat peningkatan kesejahteraan petani karena mereka tidak mendapatkan harga pasar terbaik secara real-time.