Setelah hampir dua dekade bungkam di panggung sepak bola internasional, Eritrea secara mengejutkan mengumumkan partisipasinya kembali di ajang kualifikasi Piala Afrika (AFCON) 2027. Sebuah kembalinya yang penuh teka-teki, mengingat negara di Tanduk Afrika ini sempat menghilang begitu saja dari kompetisi bergengsi tersebut sejak 2008. Kini, "Unta Laut Merah" siap unjuk gigi lagi, namun di balik hiruk pikuk lapangan hijau, tersimpan kisah panjang mengenai isu politik dan hak asasi manusia yang menjadi penyebab absennya mereka.
Rabu ini, publik sepak bola akan menyaksikan momen bersejarah saat Timnas Eritrea menghadapi Eswatini dalam babak kualifikasi pertama AFCON 2027. Pertandingan leg pertama ini akan digelar di Meknes, Maroko, bukan di Eritrea, karena negara tersebut belum memiliki stadion berstandar internasional yang memadai. Leg kedua dijadwalkan pada 31 Maret di kandang Eswatini.
Namun, kembalinya Eritrea ini bukanlah tanpa cerita. Tim yang dijuluki 'Red Sea Camels' ini terakhir kali berlaga di kualifikasi Piala Afrika pada tahun 2008. Federasi Sepak Bola Eritrea memang tak pernah secara resmi menjelaskan alasan absen panjang mereka selama sembilan edisi AFCON berikutnya. Namun, rumor yang beredar luas dan diyakini banyak pihak adalah karena maraknya pembelotan pemain dan staf pelatih yang mencari suaka politik saat bertanding di luar negeri.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan memperkirakan sekitar 80 pesepak bola dan pelatih asal Eritrea telah membelot, dengan alasan represi politik dan wajib militer jangka panjang sebagai pemicu utamanya. Sejak merdeka dari Ethiopia pada 1993, Eritrea dipimpin oleh Presiden Isaias Afwerki, yang pemerintahannya konsisten disebut oleh kelompok hak asasi manusia sebagai 'sangat represif'.
Kini, angin segar berhembus. Presiden Federasi Sepak Bola Nasional Eritrea, Paulos Andemariam, mengumumkan bahwa masa isolasi ini berakhir setelah 'diskusi positif dengan pemerintah'. Ia optimistis Eritrea akan memiliki tim yang kuat, diperkuat banyak pemain diaspora yang berlaga di luar Afrika.
Skuad yang dibawa untuk laga kontra Eswatini cukup menjanjikan. Dari 24 pemain, ada 10 pemain lokal dan sisanya merumput di berbagai liga di Australia, Mesir, Inggris, Jerman, Belanda, Norwegia, Filipina, hingga Swedia. Salah satu nama yang patut dicermati adalah Siem Eyob-Abraha dari klub divisi kedua Inggris, Sheffield United, yang sebelumnya pernah memperkuat tim muda Manchester United. Pelatih baru Hesham Yakan, mantan bek Zamalek dan Timnas Mesir, juga memberikan harapan baru. Ia sangat mengandalkan striker Ali Sulieman yang kini bermain di Mesir dan dikenal produktif.
Meski demikian, tantangan besar menanti Eritrea. Mereka minim jam terbang kompetitif internasional; pertandingan resmi terakhir mereka adalah kekalahan di kualifikasi Piala Dunia tujuh tahun silam. Inaktivitas ini bahkan membuat FIFA menghapus Eritrea dari daftar peringkat tim nasional. Di sisi lain, lawan mereka, Eswatini, meski peringkatnya (46 Afrika, 159 dunia) tidak istimewa dan punya rekor 16 kali gagal lolos ke AFCON, setidaknya lebih rutin berkompetisi dan baru saja menunjuk pelatih baru, Sifiso Ntibane.
Kembalinya Eritrea ke kancah sepak bola internasional ini lebih dari sekadar berita olahraga. Ini bisa jadi sinyal, meski kecil, bahwa ada upaya dari pemerintah Eritrea untuk membuka diri di tengah isolasi global. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: apakah 'diskusi positif' tersebut juga menjamin keamanan bagi para pemain dari ancaman represi politik yang menjadi momok di masa lalu? Atau ini hanya sekadar upaya pencitraan di mata dunia untuk negara yang sering dijuluki 'Korea Utara Afrika' karena catatan HAM-nya yang kelam? Kita tunggu saja perkembangannya di lapangan hijau dan di luar lapangan.