YUNANI BORONG SENJATA ISRAEL: JAUHI EROPA DEMI PERISAI AKILLES? - Berita Dunia
← Kembali

YUNANI BORONG SENJATA ISRAEL: JAUHI EROPA DEMI PERISAI AKILLES?

Foto Berita

Yunani kini jadi sorotan dunia setelah terang-terangan menunjukkan ketertarikan mendalam pada sistem pertahanan Israel, bahkan berencana mengembangkan senjata bersama. Langkah ini tergolong 'nekad' mengingat Israel saat ini tengah menghadapi tuduhan genosida atas tindakannya di Gaza. Pertanyaannya, mengapa Athena begitu yakin dengan pilihan ini, sampai rela menjauhi penawaran dari Eropa?

Penguatan hubungan pertahanan antara Yunani dan Israel memang bukan kabar baru, namun kini puncaknya terlihat. Komite Pertahanan Parlemen Yunani pada 4 Desember lalu resmi menyetujui pembelian 36 sistem artileri roket PULS dari Israel. Akuisisi senilai 760 juta dolar AS (sekitar Rp 12,3 triliun) ini menjadi pembelian senjata Israel terbesar yang pernah dilakukan Yunani. Sistem canggih ini nantinya akan menjadi bagian krusial dari proyek ambisius Yunani, 'Perisai Akilles', sebuah payung pertahanan udara berlapis senilai 2,8 miliar euro (sekitar Rp 48,5 triliun) yang diumumkan tahun lalu.

Tak berhenti di sana, Kementerian Pertahanan Nasional Yunani juga telah membentuk komite negosiasi untuk tiga sistem pertahanan rudal tambahan dari Israel: Spyder, Barak, dan David’s Sling. Ketiga sistem ini, yang diproduksi oleh Rafael dan Israel Aerospace Industries, memiliki potensi nilai hingga 3,1 miliar euro (sekitar Rp 53,7 triliun). Nantinya, sistem-sistem ini akan melengkapi kemampuan Perisai Akilles dalam menghadapi berbagai ancaman udara, termasuk rudal balistik, dari jarak pendek hingga jauh.

Yang menarik, Yunani sengaja mencari kesepakatan langsung (government-to-government) dengan Israel, menghindari proses tender kompetitif. Alasannya sederhana, seperti diungkapkan oleh jurnalis Kathimerini, Vassilis Nedos: “Israel tidak punya masalah memberikan keunggulan kualitatif. Dengan pemasok lain, Anda harus menegosiasikannya.” Keunggulan teknologi inilah yang dicari Athena, demi memperkuat kemampuan militernya secara signifikan.

Menteri Pertahanan Yunani, Nikos Dendias, bahkan menegaskan keinginan negaranya untuk tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga menjadi pengembang bersama. Ia menunjuk Israel sebagai contoh, negara yang puluhan tahun lalu hanya membeli senjata, namun kini menjelma menjadi pemimpin di bidang teknologi pertahanan.

Keputusan Yunani untuk merapat ke Israel, meskipun menjadi anggota European Sky Shield Initiative (ESSI) yang diprakarsai Jerman untuk sistem pertahanan udara Eropa, menimbulkan banyak pertanyaan. Langkah ini menunjukkan pergeseran prioritas strategis yang jelas, di mana Yunani lebih memilih kapabilitas spesifik Israel ketimbang sistem dari sesama anggota Uni Eropa. Di sisi lain, hal ini juga bisa memperkuat posisi Yunani di Laut Mediterania Timur yang kerap diwarnai ketegangan geopolitik.

Namun, di balik keuntungan strategis itu, langkah Yunani juga sarat kontroversi. Pembelian senjata besar-besaran dari Israel di tengah tuduhan genosida di Gaza oleh Mahkamah Internasional (ICJ) bisa memicu kritik pedas dari dalam negeri maupun komunitas internasional. Ini menunjukkan bahwa Yunani, dalam upayanya membangun 'Perisai Akilles', tampaknya memilih jalan yang berisiko, namun dianggap vital demi keamanan nasionalnya di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook