Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih. Pada Sabtu lalu, Amerika Serikat dan Israel serentak menggempur Iran. Ledakan terlihat di seantero Teheran dan berbagai kota lainnya, menandai dimulainya babak baru konflik berdarah. Serangan ini menargetkan fasilitas vital Iran, termasuk kementerian penting dan kompleks militer. Laporan awal menyebut sejumlah ledakan terjadi di Teheran, bahkan dikabarkan mengenai Kementerian Intelijen, Kementerian Pertahanan, Organisasi Energi Atom Iran, serta kompleks militer Parchin. Tak hanya itu, daerah padat seperti University Street dan Jomhouri juga tak luput dari hantaman.
Sebagai respons, Iran lewat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung melancarkan serangan balasan besar-besaran. Gelombang rudal dan drone ditembakkan ke arah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat yang beroperasi di Timur Tengah. Teheran sebelumnya sudah memperingatkan bahwa aset militer AS di seluruh wilayah akan menjadi sasaran sah jika Iran diserang. IRGC menegaskan operasi ini akan berlanjut tanpa henti sampai musuh benar-benar kalah.
Sayangnya, insiden ini juga menelan korban jiwa. Media Iran melaporkan sedikitnya dua siswa tewas dalam serangan di sebuah sekolah di timur Teheran. Di Minab, selatan Iran, serangan Israel bahkan menghantam sekolah dasar perempuan dan menewaskan sedikitnya 51 orang. Kota sentral Isfahan, yang merupakan pusat program rudal balistik Iran dengan pabrik produksi dan fasilitas riset, juga menjadi target serangan, mengingatkan pada insiden serupa di masa lalu.
Melihat situasi yang kian memanas, Dewan Keamanan Nasional Iran sudah menyarankan warga Teheran untuk meninggalkan kota, mengantisipasi kemungkinan eskalasi lebih lanjut. Sementara itu, Israel telah mengumumkan "keadaan darurat khusus". Beberapa ledakan dilaporkan terjadi di langit Israel bagian utara dan tengah, termasuk wilayah Tel Aviv dan Haifa, menunjukkan upaya pertahanan udara untuk mencegat serangan balasan Iran.
Ancaman perang yang meluas kini nyata. Jarak antara Israel dan Iran, yang terdekat kurang dari 1.000 km, memungkinkan serangan rudal balistik antar kedua negara. Eskalasi ini tidak hanya berpotensi memicu ketidakstabilan regional yang parah, namun juga dapat mengguncang ekonomi global, terutama terkait pasokan minyak dan stabilitas pasar keuangan. Komunitas internasional kini cemas menanti langkah selanjutnya dari para pihak yang bersengketa, berharap ada upaya deeskalasi sebelum terlambat.