TOKYO - Indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, sukses menembus level psikologis 68.000 poin untuk pertama kalinya dalam sejarah pada perdagangan Rabu (19/2). Pencapaian ini terjadi di tengah euforia global yang tak kunjung padam terhadap kecerdasan buatan (AI).
Nikkei melesat hampir 3 persen dalam sehari, menambah rekor kinerja gemilang pasar saham Jepang yang sepanjang tahun ini sudah menanjak sekitar 33 persen. Investor global terus memburu saham-saham yang terkait dengan rantai pasok chip dan AI.
Efek domino AI ini terlihat jelas. Produsen peralatan semikonduktor raksasa, Tokyo Electron, terbang hingga 14 persen di sesi pagi. Advantest yang spesialis alat uji chip juga naik 5,5 persen. Shin-Etsu Chemical, pemasok wafer silikon, ikut terkerek 4 persen.
Uniknya, Softbank yang notabene gencar berinvestasi di AI justru ambles 3 persen. Padahal, sehari sebelumnya Softbank baru saja menyalip raksasa otomotif Toyota sebagai perusahaan terbesar di Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar. Aksi ambil untung (profit taking) oleh investor disebut-sebut sebagai penyebab koreksi ini.
Khoon Goh, Kepala Riset Asia ANZ, menjelaskan bahwa antusiasme investor terhadap AI menjadi motor utama penggerak pasar Asia. "Permintaan kuat untuk chip kelas atas mendorong saham semikonduktor di Taiwan dan Korea Selatan, dan Jepang ikut kebagian durian runtuh berkat yen yang lemah," ujarnya kepada Al Jazeera.
Dampak dan Konteks Global
Fenomena ini bukan cuma terjadi di Jepang. Demam AI telah membawa indeks-indeks utama di AS, Korea Selatan, dan Taiwan ke level tertinggi sepanjang masa. Bahkan, tiga raksasa memori chipâSK Hynix, Samsung Electronics, dan Micronâbaru saja masuk klub eksklusif perusahaan dengan valuasi di atas 1 triliun dolar AS.
Meskipun banyak pihak mulai khawatir soal valuasi yang kepanasan (overvalued), perusahaan teknologi tetap ngotot menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur AI. Goldman Sachs memperkirakan raksasa teknologi AS akan membelanjakan sekitar 800 miliar dolar AS untuk investasi AI pada 2026. Alphabet (Google) menjadi contoh terbaru dengan rencana menjual saham senilai 80 miliar dolar AS untuk mendanai belanja modal hingga 190 miliar dolar AS tahun depan.