GENCATAN SENJATA LEBANON: HARAPAN ATAU JEBAKAN BARU? - Berita Dunia
← Kembali

GENCATAN SENJATA LEBANON: HARAPAN ATAU JEBAKAN BARU?

Foto Berita

BEIRUT — Gencatan senjata terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang mencakup Lebanon kembali membuncahkan harapan, tapi langkah ini langsung dihadapkan pada sikap keras Israel yang meragukan perdamaian abadi. Kesepakatan yang diumumkan pada Senin pagi itu disambut dengan kepulangan ribuan warga Lebanon ke wilayah selatan, meskipun peringatan keras dari otoritas setempat agar penduduk desa perbatasan tidak buru-buru pulang hingga situasi keamanan benar-benar jelas.

Bagi Ali Saleh (55), warga desa Jwaya yang mengungsi di stadion Beirut sejak awal Maret, gencatan senjata ini tak otomatis mengembalikan hidupnya. "Rumah saya hancur. Situasi keuangan sangat sulit sekarang," katanya kepada Al Jazeera. Kisah Ali hanyalah satu dari jutaan luka yang ditinggalkan perang.

Eskalasi terbaru pecah pada 2 Maret, beberapa jam setelah Hizbullah menembakkan enam roket ke Israel sebagai respons atas lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata 2024 oleh Israel. Serangan Hizbullah itu sendiri dipicu oleh terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari dalam gelombang awal perang AS-Israel melawan Iran.

Akibatnya, sejak saat itu Israel telah menewaskan setidaknya 3.783 orang di Lebanon dan melukai 11.699 lainnya. Lebih dari 1,2 juta jiwa terusir dari rumah mereka di selatan, pinggiran selatan Beirut, dan desa-desa di Lembah Bekaa. Militer Israel bahkan meratakan desa-desa dan menduduki sebagian besar wilayah selatan Lebanon. Kota Tyre dan Nabatieh, dua pusat populasi terpadat di selatan, hancur lebur akibat bom Israel dan perintah evakuasi massal.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyebut kesepakatan ini sebagai "penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon". Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyambut baik langkah ini dan berharap "pemahaman ini diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis yang mengakhiri siklus kekerasan". Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, sekutu dekat Hizbullah, memuji peran Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Mesir dalam mencapai kesepakatan ini.

Analisis Dampak: Harapan di Tengah Puing
Gencatan senjata ini ibarat oase di tengah gurun kehancuran, namun bayang-bayang pelanggaran Israel di masa lalu membuat banyak pihak skeptis. Sejarah mencatat, lebih dari 10.000 pelanggaran terhadap gencatan 2024 saja sudah terjadi. Tanpa mekanisme pengawasan yang ketat dan sanksi nyata, kesepakatan ini berpotensi menjadi "gencatan senjata kertas" yang hanya memberi waktu bagi kedua belah pihak untuk mengatur napas sebelum kembali berperang. Bagi masyarakat Lebanon, terutama 1,2 juta pengungsi, kepulangan bukan sekadar soal keamanan, tapi juga soal bertahan hidup di tengah reruntuhan rumah dan ekonomi yang lumpuh.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook